Tentang Kekuasaan Yang Melengkung

Di depan saya kanvas kosong. Dan harus diisi. Entah diisi apa orang lain mungkin tidak akan tahu. Yang pasti harus diisi agar bisa memperlihatkan sesuatu. Tadi malam lebih mudah, ‘sesuatu’ yang harus muncul adalah aplikasi perangkat lunak komputer yang mempermudah manusia mengunduh aplikasi yang mempermudah hidup mereka dalam menjaga kesehatan. Bingung mencernanya? Iya, sama dong. Saya juga bingung bagaimana memulainya. Tapi untunglah tadi malam sudah dimulai dan juga sudah selesai.

Ini sama seperti jaman sekolah dahulu. Pak Guru meminta kami, para siswa, untuk mendeskripsikan sesuatu benda dalam format ilustrasi pointilisme. Bagaimana cara membuatnya? Gampang. Pointilisme itu tehnik melukis dengan memakai titik-titik kecil, jarak antar titik bahkan hingga warna dan ketebalan sebagai pola yang membentuk sebuah gambar. Pertama kali dipakai oleh George Seurat sebagai mediumnya. Cara saya, pakai pena bernama Rotring yang memiliki ketebalan ujung bermacam-macam. Area yang lebih gelap akan dilukis dengan pena bermata tebal dan bagian terang jelas pakai pena bermata tipis. Gampang? Tidak juga sih sebenarnya. Butuh kesabaran dan ketekunan. Sebab untuk mendeskripsikan sebuah kisi jendela dari sudut 45 derajat. Sebab dalam format kertas A5 saja sudah butuh kira-kira tiga ribu titik dengan ketebalan mata pena yang berbeda. Tapi ini bukan yang paling susah. Yang susah jelas ketika menghadapi kertas kosong. Pertanyaan terbesar adalah… Apa yang harus saya isi disana?

Pagi ini saya memiliki kebingungan yang sama. Mau menulis apa? Tadi malam banyak ide, harusnya ditulis. Tapi karena esoknya sebagai buruh pabrik kecil-kecilan ini saya harus memimpin rapat, maka saya putuskan tidur lebih awal. Hilang sudahlah semua ide yang muncul di kepala itu. Maka kali ini saya iseng-iseng saja lah menulis.

Topik yang saya pilih sederhana. Tentang polisi. Mau cari topik apa lagi coba? Yang gampang saja lah. Kakek saya polisi. Teman-teman saya polisi. Tetangga saya polisi. Dulu jaman sekolah pernah pacaran, juga sama polisi. Adik ipar saya pas nikah, lah walinya juga polisi. Hidup saya dikelilingi polisi. Ya sudah cerita yang gampang saja. Cerita soal polisi.

Kata orang-orang polisi Indonesia itu galak. Nah! Kalau ini saya pasti membantah. Polisi-polisi yang saya kenal itu kalah galak dibandingkan Ibu saya. Wah Ibu saya kalau mengamuk, itu gawat deh pokoknya. Apalagi kalau mengamuknya ke saya. Orang-orang satu kampung itu bisa sampai prihatin campur pusing mendengarnya.

Beberapa waktu ini, orang-orang rajin marah pada polisi. Biasa lah, namanya juga profesi yang paling dekat sama warga, yaa biasa diomeli. Polisi diomeli ketika memalak warga dipinggir jalan soal lalu lintas. Warga bingung, susah membedakan mana polisi mana preman. Polisi diomeli lagi ketika tahanan status koruptor kelas kakap kabur dari tahanan mereka. Warga lagi-lagi bingung, katanya mau jadi polisi tesnya berat dan susah sebab pakai tes kesehatan segala. Loh kok pas jadi polisi, matanya jadi pada buta? Orang dibalik jeruji bisa mabur seenak jidatnya. Memangnya di kantor polisi diajari ilmu ‘ngilang’.

Beberapa minggu lalu, wanita Ontario kelahiran Uganda bernama Irshad Manji datang ke Jakarta, kampung saya. Ini perempuan, rencananya datang untuk diskusi. Namanya diskusi yaa pakai mulut dan otak. Kalau pakai mulut dan tangan terus ditempat gelap, itu mah pacaran a’la anak Cilincing namanya. Hehe.

Ketika asik-asik Irshad Manji sedang diskusi, tiba-tiba segerombolan orang kampung saya lainnya datang sambil teriak-teriak nama tuhan mereka dan bawa golok. Rencananya menghentikan diskusi Mbak Manji ini. Waduh malu-maluin banget yah. Masa orang diskusi pake mulut dibalas golok. Coba kalau diskusi pakai mulut dibalas juga dengan mulut, ada kemungkinan beradu mulut. Kemungkinan besar lagi, ciuman. Asoy geboy tuh. Kan lebih enak ciuman pakai mulut daripada pakai golok. Buset dah!

Apa saya malu? Yaa iya dong. Mbak Manji kan tamu. Seajaib-ajaibnya tamu, yaa kita hargai dan kita jamu dengan baik. Dilindungi kemaslahatannya. Kalau memang beliau kurang ajar, yaa diberi tahu baik-baik. Didiskusikan untuk cari solusi. Masak tamu dilempar golok? Memangnya kita perguruan kungfu, tamu datang disodori alat tempur?

Untung saja saat itu polisi datang. Menghentikan.

Menghentikan. Iya benar. Polisi datang untuk menghentikan. Tapi ajaibnya, polisi datang untuk menghentikan diskusi Mbak Manji dan teman-temannya.

Ini menarik loh. Yaitu polisi datang bukan untuk menghentikan langkah kekerasan yang ditempuh orang-orang bergolok.

Ada dua premis yang bisa ditarik disini. Premis pertama adalah: “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sedangkan premis kedua, yang paling ekstrim yaitu: “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Mari kita ulas premis pertama. Yaitu “Polisi tidak mendukung Mbak Manji”. Sebagai institusi (Jelas bukan sebagai perorangan. Sebab yang melarang adalah Polri, bukan tetangga saya si Otong yang kebetulan polisi juga). Maka itu sebagai institusi independen polisi berhak tidak mendukung siapa-siapa. Posisi mereka sebagai pelayan publik adalah netral. Polisi, sebagai hamba hukum hanya mengabdi pada satu dan hanya satu hal saja, yaitu hukum. Disanalah kaki polisi berpijak. Jika pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tertera: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan bahwa Irshad Manji soenggoeh tidak seksama dan harus diusir dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja”, maka polisi memang harus mengusir Irshad Manji. Tapi lah memang ada nama Mbak Manji dalam tetapan hukum RI? Jika bukan dari tetapan hukum, darimana itu dasar hukum datangnya pembubaran diskusi Mbak Manji? Disini, premis awal dengan kalimat “Polisi tidak mendukung Mbak Manji” ternyata tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Sekarang premis yang kedua. Yaitu “Polisi menyetujui tindak kekerasan”.

Saya benci mengulas ini. Sebab implikasinya menyebalkan. Tapi kalau kita mau jujur, kita harus mengulas ini. Pertanyaannya adalah, apa benar polisi menyetujui tindak kekerasan?

Berdasar kasus yang terjadi pada Indonesia tahun 65-66, perang sipil Maluku, bahkan hingga humor miring soal warga yang sial tertangkap ketika mencuri lalu dinterogosi, kekerasan memang terjadi di tubuh kepolisian. Tapi ketika polisi mulai memilah-milah dan bermain dengan politik kekerasan ini, maka yang terjadi adalah korupsi.

Korupsi? Polisi? FBR dan FPI? Irshad Manji? Apa hubungannya?

Ketika polisi (yang diwakili Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto) membubarkan diskusi Irshad Manji tanggal 3 May 2012 sekitar pukul 1900 di Jakarta Selatan atas desakan organisasi massa FBR dan FPI, yang terjadi adalah korupsi. Polisi, dengan segala kewenangan dan kekuatannya, tanpa didasari aturan hukum yang kuat telah melanggar konstitusi UUD 1945 pasal 28. Lebih parah lagi, Polri melalui tangan Adri Desas Furyanto secara terang-terangan melanggar UU no 12 tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan hak politik. Ketika kepolisian dengan terang-terangan telah melanggar konstitusi, menyerang kebebasan hak sipil dan politik warga, berpihak pada pelaku kekerasan terorganisir, maka yang terjadi adalah POLRI tengah korupsi.

Benar. Ini saya ulangi. Anda tidak salah baca. POLRI tengah korupsi.

Korupsi pada polisi adalah bentuk spesifik dari penyelewengan polisi yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan finansial, keuntungan pribadi lain, atau kemajuan karir bagi seorang polisi atau petugas dalam pertukaran untuk tidak mengejar, atau selektif mengejar, penyelidikan atau penangkapan.

Salah satu bentuk umum dari korupsi polisi adalah meminta atau menerima suap sebagai imbalan untuk tidak melaporkan kejahatan terorganisir atau jaringan prostitusi atau kegiatan ilegal lainnya. Contoh lain adalah ketika polisi mencemooh kode etik mereka sendiri dalam membantu tersangka kejahatan – misalnya melalui pemalsuan barang bukti. Lebih parah lagi adalah ketika polisi mungkin dengan sengaja dan sistematis berpartisipasi dalam kejahatan terorganisir itu sendiri.

Di kota-kota besar di penjuru dunia yang memiliki institusi kepolisian ada bagian urusan internal untuk menyelidiki korupsi yang dilakukan oleh polisi. Korupsi pada polisi merupakan masalah yang tersebar signifikan di beberapa negara, seperti Rusia, Ukraina, India dan Meksiko.

Bentuk korupsi pada polisi terbagi menjadi beberapa diantaranya:

  • Korupsi wewenang: polisi menerima minuman gratis, makan, dan imbalan lainnya hanya karena ia seorang polisi.
  • Suap: menerima pembayaran dari merujuk orang untuk bisnis lain. Hal ini dapat mencakup, misalnya, kontraktor dan operator mobil derek.
  • Mencuri dari tersangka, tahanan atau korban kejahatan atau mayat mereka.
  • Shakedowns“: menerima suap untuk tidak mengejar pelanggaran pidana.
  • Perlindungan kegiatan ilegal: menjadi bodyguard, atau menerima pembayaran untuk meelindungi kegiatan ilegal: seperti pelacuran, kasino, atau pengedar narkoba untuk melindungi mereka dari penegakan hukum dan menjaga mereka ketika beroperasi.
  • Fixing“: Dengan sengaja merusak tuntutan pidana dengan menahan barang bukti atau mengagalkan barang bukti muncul di sidang pengadilan.
  • Kegiatan kriminal langsung dari aparat penegak hukum sendiri.
  • Hadiah internal: Membeli dan menjual hak istimewa yang diperoleh dari aparat penegak hukum lainnya. Misalnya waktu tugas, wilayah dinas, atau cuti/libur.
  • Tukang Timpa“: yang menanam atau menambah bukti, terutama dalam kasus narkoba.
  • Memplonco sesama penegak hukum.
  • Lewat aja santai“: polisi lalu lintas membatalkan tilang sebagai hadiah ke teman dan keluarga petugas polisi lainnya.

Nah Anda sudah baca sekarang bentuk korupsi yang terjadi di atas? Kenal? Pernah kejadian dengan Anda atau dengan orang terdekat?

Hell yeah, saya tahu Republik Indonesia bukan satu-satunya yang negara dimana Kepolisiannya korup. Masih banyak negara di dunia ini yang juga punya polisi korup. Haji Mamadov di Uzbekistan yang terkenal selain sebagai seorang reserse polisi, ternyata adalah pembunuh bayaran yang sialnya telah berhasil mengeksekusi puluhan manusia. William King dan Antonio Murray di Baltimore, US sana, bahkan menjadi kepala geng sindikat pengedar narkoba di malam hari ketika siang harinya menjadi detektif satuan polisi anti narkoba.

Tapi… Tapi.., saya kenal polisi Indonesia dan saya mencintai mereka. Gila jika saya biarkan mereka korup. Dan saat ini, kepolisian Indonesia entah bagaimana tingkahnya, kok tiba-tiba cenderung ke korup.

Punya kuasa itu berat. Apalagi jika membawa hukum sebagai pijakan kaki di setiap langkah ini. Menurut Lord Acton, kekuasaan itu cenderung kepada korup dan kekuasaan mutlak adalah sebuah korupsi yang mutlak. Semakin besar kuasa polisi, semakin besar pula kekuatan yang akan menariknya ke jurang korupsi.

Maka sore ini di akhir minggu, ijinkanlah saya bicara pada keluarga, teman-teman, tetangga, dan orang-orang yang saya cintai dan kebetulan jadi polisi dengan kalimat, “Hati-hati kena korupsi. I love you loh”


Lelaki Dari Indonesia

Saya dipanggil oleh rekan kerja dari departemen Sumber Daya Manusia. Kata beliau, ada training yang mungkin menarik untuk saya. Saya tanya training apa, dia jawab, training personal branding. Saya tanya lagi apa ada makan siang gratis, dia ketawa. Padahal saya serius. Saya mau ikut kalau ada makan gratisnya. Maklum lah, mental kere macam saya begini kan doyannya gratisan.

Teman saya, si trainer, bilang kalau training ini dibutuhkan sebagai bagian dari sekolahnya. Ia harus mentraining enam kali karyawan pabrik agar bisa lulus sekolah. Jadi atas dasar bantu teman, saya ikuti lah training ini.

Training ini dilaksanakan pagi hari. Diikuti oleh sembilan peserta dari negara-negara yang berbeda. Satu-satunya orang asia dan kebetulan dari Indonesia, yaa saya. Jadi, saya dapat perhatian khusus memang pada sesi pagi ini.

Saya biasa dapat perhatian khusus. Mirip bule di Candi Borobudur di Jogja sana yang dikerubuti anak sekolah untuk minta foto bersama. Saya bukan bule, ini jelas. Tapi kan sekeliling saya bule semua, jadi jelas juga kalau saya eksotis.

Ini bukan belagu. Bukan pula sok-sokan. Ini fakta. Jadi berbeda itu memang mengundang tatap mata. Satu anak punk berambut mohawk di komunitas santri berpeci pasti jadi lirikan sekelilingnya. Nah logika yang sama kita terapkan pada seorang lelaki tinggi standar berkulit coklat berambut panjang awut-awutan diantara manusia-manusia setinggi dua meter lebih berkulit terang pucat berambut pendek jambul mirip model tokoh kartun tintin. Jelas jadi tatapan. Sekali lagi, jadi berbeda itu mengundang tatap mata. Mau menafikkan fakta ini, silahkan

Sebelum acara dimulai, kami diminta memperkenalkan diri. Setiap orang pun mengenalkan dirinya masing-masing. Bagaimana mereka mengidentifikasi dirinya dan apa yang akan mereka perbuat di masa depan untuk personal brandingnya.

Ketika kami bicara sosial media, ini adalah topik yang sangat menarik. Sebab tidak semua orang ternyata memiliki akun sosial media dan bahkan ada yang membencinya.

Ketika giliran saya harus mengenalkan diri di training ini, saya bilang kalau saya sudah melakukan personal branding sejak lama. Si trainer kaget. Dia tanya kenapa dia tidak bisa menemukan saya di mesin pencari dan sosial media lainnya. Padahal saya sudah mengaku kalau saya punya lima blog, tiga akun facebook, dua akun twitter dan hampir setengah lusin alamat email.

Jawabnya sederhana, saya melakukan semua itu atas nama anonimitas.

Saya tahu personal branding itu penting. Yang jadi pertanyaan, apa itu yang saya butuhkan?

Tahun 2006 blog saya dikunjungi kira-kira tiga ribu pengunjung dari alamat unik perhari. Orang yang berbeda. Tapi lantas apa yang saya dapat? Nama besar? Uang? Jumlah fans membludak?

Tidak! Saya tidak dapat itu semua dan semua itu memang bukan kebutuhan saya.

Yang saya dapatkan adalah diri saya dibelakang komputer tiga jam perhari untuk membalas komen-komen atas nama ‘kode etik ngeblog’.

Bayangkan, tiga jam perhari? Kalau iya saya tidak punya pekerjaan lain seperti nyuci baju, ngepel, beres-beres rumah, masak, nyari nafkah, menservis partner, jelas saja saya bisa meluangkan waktu tiga jam perhari hanya untuk menjadi terkenal dalam imaji diri sendiri. Semacam onani jiwa. Tapi kalau saya tidak punya waktu menanggapi? Maka jadilah itu bumerang buat saya. Semacam melempar opini pada publik dan lalu lari tidak bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Mirip anjing yang kencing di tiang listrik. Main lempar air seni sembarangan, endus-endus dikit dan lalu pergi lenggang kangkung setelahnya.

Jadi, pada saat saya mengenalkan diri, saya jawab bahwa saya muak jadi terkenal. Bahkan ketika anonimitas melindungi buruknya muka asli saya pun, saya tetap tidak bisa menghindari bahwa saya harus meluangkan waktu untuk menjaga ‘imaji personal’ digital di depan publik. Dan menjaga ‘branding’ itu butuh waktu, tenaga dan upaya.

Jadi pada intinya, jika anonim saja sudah susah jaga branding, apalagi pakai nama asli. Betapa membosankannya harus mati-matian jaga imaji 24 jam sehari melalui semua akun-akun sosial media. Sebagaimana betapa membosankannya jadi orang yang terus-terusan tersenyum dan melambai-lambai di depan publik setiap kali. Memangnya apa? Keluarga raja? Huh!

Tapi yaa begitulah hidup. Kata Kang Adi teman saya. Setiap orang harus mengenalkan personal brandingnya pada publik. Kalau presiden kita saja punya politik pencitraan diri (yang kemudian dengan sangat bangganya diikuti oleh istri, anak, dayang dan siapa saja yang mempu menjilat pantatnya), masak sih kita sebagai warganya tidak mau ikutan?

Jadi, menuruti saran Kang Adi, ikut-ikutanlah saya punya personal branding.

Personal branding saya jelas. Yaitu seorang ayah, sopan dan selalu tersenyum. Singkat kata, dalam bahasa asing, ‘a nice guy’. Tipikal manusia yang tidak menjadi ancaman buat sekelilingnya.

Punya personal branding sebagai nice guy itu susah-susah gampang. Gampangnya, saya tidak perlu susah-susah jadi nice guy. Senyum sedikit, ibu-ibu pedagang jengkol tetangga saja sudah ikutan senyum. Jadi ayah? Apalagi. Apa susahnya? Lah wong saat ini saya sudah dikaruniai seorang putri yang ramah baik dan cantik jelita. Apa susahnya berperan jadi ayah?
Lantas sopan? Lah kalau itu mah kewajiban. Sudah dari bawaan orok memang harus sopan kalau lahir di kampung saya Cilincing sana. Mau rusuh? Yaa siap-siap aja muka babak belur digebugin orang sekampung. Jelas saya harus sopan. Dan itu kewajiban.

Susahnya, yaa dengan orang-orang tertentu saja sih. Terutama gadis-gadis. Ehem…

Iya, saya ini single. Bukan sebuah kebanggan, apalagi kewajiban. Hanya sekedar fakta. Bahwa saya hidup sendiri, membujang, dan melakukan semua kegiatan cuci-mencuci, masak-memasak, membersihkan rumah, mencari nafkah, membesarkan anak, secara sendiri adalah fakta bahwa saya single. Tidak usah ditutup-tutupi. Realita. Pahit memang. Tapi hadapi saja.

Lantas apa hubungannya dengan personal branding sebagai nice guy dan single?

Lah banyak loh!

Sudah berapa kali saya ini diomeli beberapa orang. Ada yang menggerutu dibelakang ada yang terang-terangan memaki di depan. Biasanya yang diumbar adalah, “Kamu ini gimana sih, kalau flirting sama aku… yaa aku saja dong. Masak semua cewek digoda. Dasar buaya!”

Tinggallah saya bengong termehek-mehek. Apa maksudnya? Lah sejak kapan saya flirting sama beliau? Dan sejak kapan saya menggoda gadis-gadis?

Dan dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya secara gagah perkasa, saya tangkis omongannya dengan jawaban, “Saya? Beneran nih?”

Beliau sambil marah-marah menukas, “Ya iya kamu! Masih aja pura-pura nggak tau! Kemarin kamu di pestanya si Ayu, duduk disamping dia sambil senyum-senyum. Terus pas di dapur kamu sama Siti, masak bareng. Masih juga senyum-senyum. Trus pas kamu nyanyi maen gitar. Ngeliatin aku terus. Udah gitu lagunya love is in the air lagi. Kamu ini apa sih maksudnya? Kalian ini orang Indonesia berlaku nice dan doyan flirting yaa?”

Wah ini jelas saya tidak bisa terima. Itu generalisasi. Tidak semua orang Indonesia itu nice. Masih ada yang bawa-bawa parang pakai nama agama melarang diskusi buku. Masih banyak di Indonesia yang bakar-bakarin rumah ibadah. Masih banyak orang Indonesia yang cuek lihat tetangganya lapar. Jelas saya tidak terima. Tidak semua orang Indonesia itu nice! (*Pakai tanda kutip, biar efeknya jelas kalau saya tidak terima. Hihihi*)

Lalu kalau soal flirting. Ini jelas merupakan sebuah tantangan untuk menjawabnya. Katanya, orang Indonesia itu suka senyum. Dan oleh beberapa bangsa, yang kelihatannya jarang senyum, senyum itu memang bentuk flirting. si Soni sahabat saya bilang, “Men, kita ini orang dari negara tropis. Katanya mudah jatuh cinta”. Lah saya belum tentu setuju pendapat si Soni. Oke lah memang ada wakil rakyat Indonesia di Senayan sana yang mungkin jatuh cinta dan dengan asoynya memperlihatkan kepada publik adegan rekam mereka ketika tengah bercinta, tapi itu kan bukan berarti semua orang Indonesia mudah jatuh cinta. Lalu menggoda umat manusia sebanyak-banyaknya. Kalau memang orang Indonesia suka menggoda umat manusia dan ditakdirkan lahir sebagainya, pasti kita sebangsa sudah dikerangkeng di neraka. Idih amit amit naujubilah mijalik. Jelas yang pasti saya tidak terima.

Maka itu dengan perlahan tapi pasti, saya jawab beliau dengan, “Neng, nggak semua orang Indonesia begitu. Apalagi saya. Nggak semua orang Indonesia seperti saya. Kami ini terdiri dari banyak manusia yang berbeda. budaya berbeda. Pakaian berbeda. Bahasa berbeda. Tidak bisa semua orang Indonesia dikategorikan sama. Apalagi disama ratakan dengan saya”

Sambil berdiri dan pergi ia dengan ketus menjawab, “Ahh dasar laki-laki. Semuanya sama. Gombal. Bisanya ngeles saja”

Sambil garuk-garuk kepala saya berfikir. Dalam hati. Ahh susahnya jadi laki-laki… Apalagi jadi laki-laki Indonesia. Mau senyum, dibilang menggoda. Mau cemberut, dibilang sombong.

Lah kita, lelaki Indonesia. Harusnya bagaimana yaaa?


Tentang Kelas Dan Hipokrasi Orangtua

Saya berniat berhenti menulis. Alasannya agak bodoh, yaitu capek. Tapi kenapa saya tidak juga berhenti? Agak aneh memang, kalau letih, yaa berhenti. Ambil jeda. Rehat. Lalu pikir ulang apakah mau terus lanjut atau ganti kemudi.

Tapi toh saya tetap menulis. Dalam galau, dalam sedih, dalam senang, dalam bahagia, dalam badai, tetap saja menulis. Haa, aneh kan? Iya jelas aneh, sudah beberapa kali saya sudah memutuskan berhenti menulis. Tapi toh tetap saja lanjut terus. Mungkin ada yang salah dalam otak saya.

Oke, mungkin iya ada yang salah dalam otak saya, jadi walaupun letih, masih tetap maju terus. Haha. Tapi, di sisi lain. Di saat saya gamang dan kadang memikirkan untuk terjun bebas ke dunia lain yang sama sekali beda, eh biasanya datang surat. Kadang dari orang yang sama sekali tidak disangka. Suratnya pun aneh, kadang isinya sederhana dan singkat sekali. Misalnya, “Bang, nulis, Bang. Jangan berenti!”

Minggu ini, hari-hari yang amat berat sekali buat saya. Tapi saya pikir tidak saya ceritakan dulu disini. Saya bukan tipe impulsif. Namun saya akan tetap menulis. Cerita lain. Nah tulisan kali ini, saya persembahkan buat para mereka yang menulis (dan memaksa :) ) agar saya tetap menulis.

Begini ceritanya:

Saya ini manusia yang gila sekolah. Agak komplikatif dan paradoksial memang. Untuk orang yang sama sekali tidak percaya akan institusi pendidikan masa kini karena dianggap berbasis pada komersialisasi dan hanya menciptakan lulusan sebagai baut pelengkap mur industrialisasi, kok yaa doyan amat sama sekolah.

Jawaban filosofisnya; sebab sekolah, sayangnya-hingga-saat-ini, adalah cara termudah dan tercepat memperoleh keilmuan tertentu. Jawaban pragmatisnya; sebab saya biasanya selalu punya cara mengakses sekolah murah (bahkan biasanya, gratis). Sebagai fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara negara (entah negara mana), saya memang tidak pernah bayar uang iuran sekolah sejak kelas 5 SD. Dibiayai terus oleh negara (entah negara mana, saya tidak begitu peduli).

Sejak tahun lalu, saya hobi banget keluar masuk kelas. Mulai dari kelas yang ada hubungannya dengan pekerjaan sehari-hari, seperti kelas penguasaan perangkat lunak manipulasi vektor digital hingga bahasa-bahasa baru seperti HTML5, hingga kelas-kelas yang tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari, seperti kelas memanjat, kelas menari hingga kelas bermain harmonika jamaah.

Boleh dibilang, hidup saya sejak tahun lalu hingga saat ini tidak jauh dari seputar pintu kelas ke pintu lainnya. Dan dari pintu ke pintu itu, saya bertemu orang-orang yang menarik, lucu, luar biasa, hingga yang sakit jiwa, aneh dan menyebalkan. Pada intinya, menarik. Dinamis.

Satu kelas yang paling membekas dalam otak saya adalah kelas parenting. Sekolah untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Loh apa saya bukan orang tua yang baik? Kalau saya orang baik dan menganggap diri sebagai orang baik lalu tentu saja otomatis menjadi orang tua yang baik, buat apa saya sekolah menjadi orang tua yang lebih baik? Bukankah kebijaksanaan datang dari pengalaman? Makin lama saya berpengalaman sebagai orang tua, kan tentu saja saya akan jadi orang tua yang lebih baik? Lalu kenapa saya, yang menganggap diri orang tua yang baik, masih saja sekolah untuk jadi orang tua yang lebih baik?

Jawabannya panjang. Bertele-tele dan cukup memusingkan. Saking memusingkannya bahkan bisa-bisa menyeret beberapa nama dalam dosa digital yang tak berampun ini. Maka itu, lebih baik disingkat saja. Saya sekolah menjadi orang tua yang baik karena: harus!

Suatu hari di akhir musim panas, mulailah saya daftar di sekolah ini. Sebagaimana sekolah-sekolah saya lainnya terdahulu, untung saja sekolah ini murah (bahkan bisa dibilang hampir gratis). Dan sebagaimana sekolah-sekolah saya lainnya, ini sekolah malam. Menyesuaikan jadwal kerja saya yang mencari nafkah dengan memburuh dari pagi hingga sore hari.

Kelas pertama parenting, saya ingat sekali. Kami mengenalkan diri satu sama lain. Dan sebagaimana acara pengenalan basa-basi ini; saya cepat lupa (*Duh, ingatan saya memang parah*). Uniknya, setelah mengenalkan diri, kami diminta menulis nama anak dan umur mereka di sebuah kertas besar yang dilipat segitiga agar bisa terpampang jelas di meja belajar kami.

Kami diminta bukan untuk mengenal siapa kami, tapi kami diminta untuk saling mengenal siapa anak-anak kami.

Kami, dua belas orang duduk memutar. Dengan meja belajar ukuran 1 x 1 meter di hadapan masing-masing. Diberi buku. Isinya semacam kalendar. Tapi kosong. Dua orang dosen duduk diantara kami. Memberi tahu beberapa poin-poin yang akan mereka berikan dan harus kami capai sebelum sekolah usai.

Apa poin-poin itu? Menarik, sebab mereka jawab bahwa kami lah yang harus mengisi sendiri poin-poin itu. Saya bengong. Ini gila! Sekolah macam apa ini? Saya, sang pelajar, kok yaa harus bikin sendiri kurikulum? Apa gara-gara beasiswa, saya jadi diperlakukan begini?

Tapi ternyata, bukan hanya saya yang harus mengisi poin-poin itu. Ternyata semua orangtua juga harus mengisi poin-poin tersebut.

Saya lalui kelas pertama dengan cukup galau. Sebagai satu-satunya single father di kelas, boleh dibilang saya semacam makhluk yang hampir punah. Teman-teman sekelas saya biasanya perempuan. Ibu dengan dua atau tiga anak dengan suami pemalas atau malah tidak peduli. Satu-satunya lelaki yang lain adalah seorang suami beserta istrinya yang hamil besar anak kedua. Saya dapat perhatian cukup besar dari para pembimbing. Karena saya satu-satunya lelaki yang datang tanpa pasangan dan mengisi jawaban kosong pada lembar pertanyaan-pertanyaan “Apa Yang Anda Ketahui Mengenai Pasangan Anda?”

Dosen menatap saya. Itu tatapan pertama dia sejak kelas dimulai. Ketika dia buka suara, saya tahu masalah saya baru saja mulai.

“Kamu tidak mengisi lembar ini, kenapa?”

“Saya tidak punya pasangan”. Jawab saya dengan tatapan hampa ke arahnya. Kalau dia tanya kenapa saya tidak punya pasangan, pasti akan saya jawab bahwa itu bukan urusannya. Untung ia tanya lain.

“Kenapa kamu ikut kelas ini?”

“Putri saya masih dua tahun ketika orangtuanya bercerai. Sekarang sudah satu setengah tahun sejak peristiwa itu terjadi, ia sudah lebih bisa mengungkapkan perasaannya. Dan ia masih bertanya-tanya soal perpisahan orangtuanya. Ia pasti masih sedih kehilangan orangtua lengkap. Saya harus melakukan sesuatu agar dia bahagia lagi. Saya pikir saya ikut kelas ini agar lebih bisa membantunya melewati masa-masa itu”

“Kamu pikir ia sedih?”

“Kalau ia tanya soal kenapa orangtuanya pisah, iya. Saya pikir ia sedih…”

“Kamu bahagia?”

Saya terkesiap. Ini pertanyaan yang aneh. “Err… Maksud kamu?”

“Kamu bahagia dengan hidup kamu?”

Dalam hati saya merutuk. D@3n! Saya salah masuk kelas! Tapi setelah diam sejenak, sambil menghela napas panjang saya jawab, “Kalau putri saya sedih, saya tidak bahagia”

Ia berhenti menatap saya. Saya menarik nafas. Ahh untunglah. Sepertinya ia sudah tidak punya perhatian lagi ke saya. Sial sekali, ternyata itu hanya ilusi di otak saya. Sebab ia memalingkan muka ke seluruh kelas dan berkata pada hadirin, “Mohon kalian perhatikan baik-baik sesi saya dan dia bicara. Ini contoh yang bagus bagaimana kalian membuat poin”

Benar-benar sial, kali ini semua mata yang sumpah mati saya pikir setengah mengantuk karena kelas malam, kini menatap saya. Si dosen kampret menatap saya lagi, “Kalau kamu tidak bahagia, bagaimana kamu bisa membahagiakan putri kamu?”

Saya mau jawab, ‘Eh kampret, lo tau ga sorga itu bukan cuman di telapak kaki ibu, tapi juga di telapak kaki anak gua. Urusan amat lu ama gua bahagia apa nggak!’. Tapi karena saya yakin ia belum pernah mendengar kalimat surga di bawah telapak kaki ibu, maka saya putuskan untuk cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala dan menjawab dengan kalimat ,”Yes, itu pertanyaan yang bagus” (*jurus pamungkas bangaip keluar sudah. hehe*).

Dia bilang, “Saya lihat di daftar list kegiatan” sambil memegang sebuah list yang saya pikir saya harus isi untuk menjelaskan kegiatan harian saya sebelum masuk ke kelas ini. Oh no! Lalu lanjutnya, “Kelihatannya kamu sibuk. Astaga, bahkan saya pikir kamu sibuk sekali. Kamu tidur sedikit. Sisanya bisnis, anak dan belajar. Kamu harus meluangkan waktu buat diri kamu sendiri. Kapan terakhir kamu berlibur?”

Saya yang seperti sudah merasa di knock-out di depan publik hanya bisa melempar handuk putih ke arena, menjawab pelan, “Tiga tahun lalu…”

“Ok, itu poin pertama kamu…”

Saya mengangkat alis. Heh apa-apaan ini? Masak saya masuk kelas hanya untuk disuruh berlibur. What the…! Tapi belum sempat saya tanya, ia sudah bertanya duluan. “Untuk apa kamu masuk kelas ini?”

Saya tahu, ia tidak mengharapkan jawaban yang sama. Kali ini, saya seperti petinju yang baru saja dijatuhkan di ring dan masih harus memberi klarifikasi di depan pers akibat kekalahan. Ok, saya akui malam ini saya kalah. Saya harus menerimanya dengan lapang dada. Saya jawab dengan ikhlas, “Putri saya tidak mau membersihkan kamarnya. Saya mau ikut kelas ini agar memberi tahu caranya disiplin”

Ia gantian mengangkat alis, “Apa definisi kamu dengan membersihkan?”

Saya termangu, iya ia benar. Apa definisi dengan membersihkan? Menyapu dan mengepel kamarnya? Menaruh semua mainan pada tempatnya? Menata kembali semua yang ia berantaki sesuai dengan urutannya? Astaga, disini saya sadar bahwa saya memberi ekspektasi terlalu berlebihan pada anak berusia tiga setengah tahun. Sekarang saya tahu kenapa saya ada di kelas ini, jadi tersangka sebagai orang tua yang… Ahhh, saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan diri saya sebagai ayah yang baik.

Selalu saya tulis di sosial media, di blog, di twitter, di mana-mana; bahwa saya seorang ayah. Seorang bapak yang amat bangga dengan putrinya. Tapi apa benar saya ayah yang baik? Apa benar semua kebanggan yang saya tulis di depan publik dimanifestasikan dengan sejujurnya dihadapan sepasang mata seorang anak perempuan berusia tiga tahun?

Sebagai laki-laki yang pernah berelasi, saya tahu saya gagal. Andai semua perempuan yang pernah saya singgahi adalah ahli samurai, mungkin saat ini repih-repih tulang badan sudah jauh lebih halus daripada daging cincang dalam kaleng. Iya, disitu saya gagal. Kenyataan itu pahit. Dan menerimanya, jauh lebih pahit. Tapi mau apa lagi, terima saja kenyataan ini.

Melihat saya bengong seperti kehilangan pegangan, Pak Dosen seakan-akan tidak mau tahu. Kali ini, ia melontarkan jab terakhirnya ke ulu hati, “Apa kamu membersihkan kamar kamu?”

Benar-benar seperti halilintar menghantam isi perut. Saya tersengat habis-habisan. Menghela napas pun terasa berat. Bagaimana saya mau meminta sang putri Novi Kirana membersihkan kamarnya jika papanya sendiri sangat-sangat jarang membersihkan kamar. Hipokrasi orang tua yang selama ini saya cemooh, saya benci dan saya maki-maki, ternyata bersemayam di dalam diri saya.

Saya berharap putri saya melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Tapi bagaimana mungkin jika saya sendiri tidak melakukan itu. Bagaimana ia bisa mendapatkan contoh yang baik?

Saya selalu bercita-cita melakukan revolusi. Tapi taik kucing lah semua itu, jika saya sendiri tidak melakukan revolusi dalam hidup sendiri.

Singkat kata, malam itu, malam pertama masuk kelas parenting, saya sadar. Sepenuhnya sadar lirik lagu Chris Young; “Any fool can make a baby But it takes a man to raise a child”. Iya semua orang bisa bikin anak, tapi membesarkannya, itu jelas harus manusia yang berotak.

Beberapa bulan berikutnya saya lulus. Katanya, dengan nilai terbaik. Anomali. Tapi saya tidak peduli. Saya tidak masuk kelas itu untuk jadi yang terbaik diantara para orangtua. Saya tidak masuk kelas itu untuk jadi juara. Saya bahkan tidak peduli berapa jumlah angka yang telah tercapai. Yang saya peduli, bahwa ada satu bocah perempuan di bawah umur yang mencintai saya apa adanya dan itu luar biasa. Saya harus bertanggung jawab atas cintanya. Dan hanya itu, dan cuma itu yang saya pedulikan.

Di malam kelulusan, semua sahabat baik saya berkumpul. Bersulang atas apa yang telah saya capai. Mereka bertanya, “Apa setelah ini kamu pikir kamu ayah yang hebat?”

Saya diam. Dengan lirih saya jawab, “Tidak ada orangtua yang sempurna. Yang ada hanyalah orangtua yang melakukan yang terbaik untuk anaknya”

Mereka setuju dalam diam. Bersulang sambil menatap bulan.


Lola – Lonte Lanang

orandum est ut sit mens sana in corpore sano.
fortem posce animum mortis terrore carentem,
qui spatium uitae extremum inter munera ponat
naturae, qui ferre queat quoscumque labores,
nesciat irasci, cupiat nihil et potiores

Sudah lama saya tidak menulis. Terutama menulis kelanjutan tulisan yang dahulu soal privasi. Secara literal memang tidak menulis. Biasanya jika saya tidak mempublikasikan sesuatu di blog, saya tetap menulis.

Alasan tidak menulis sebenarnya sepele, yaitu Faktor K, singkatan dari “Kesehatan”. Kata teman-teman saya, itu bukan ‘Faktor K’, melainkan ‘Faktor U’ alias “Usia”. Katanya, kalau umur bertambah, kesehatan menurun.

Saya tertawa mendengarnya. Masa sih begitu? Ada tetangga saya makin berumur malah makin sehat dan berotot. Habis kerjanya olahraga terus. Bukan hanya sembarang olahraga, melainkan lari berlari.

Olahraga saya yah apa? Paling push-up kalau bangun tidur. Itu pun bukan gara-gara biar sehat, melainkan agar tidak mengantuk lagi setelah buka mata. Sebab saya ini parah. Sudah pasang jam weker, sudah minta dibangunkan, sudah niat bangun pagi, nah ketika bangun buka mata bukannya segera sigap mandi dan ganti baju, malahan tidur dan mimpi mandi dan ganti baju. Nah si push-up itu cukup membantu biar bangun dan terjaga.

Olahraga lain? Naik sepeda? Aduh, sejak kunci sepeda saya hilang, itu sepeda dengan bangganya berdiri mematung jadi bagian dari lapangan parkir stasiun kereta. Hebat dia, ada hujan ada angin, ada badai ada terik, tetap saja berdiri dengan anggun. Tidak ada yang berani menungganginya. Jangankan para junkie yang hobi mencuri sepeda, saya sendiri sebagai tuannya tidak bisa mengayuh itu sepeda. Lah bagaimana bisa, wong digembok habis-habisan pakai tiga utas rantai kapal. Lalu kuncinya, semua hilang! Waladalah…

Sejak sepeda hilang dan musim dingin makin menggila yang membuat matahari terbit pukul sembilan pagi dan lelap pada tiga sore, saya jadi jarang olahraga. Lebih tepatnya, jarang gerak badan. Bisa jadi gara-gara itu, badan jadi kurang sehat.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Itu semboyan yang mencuat di plang papan kotak dari triplek di lapangan upacara SDN 25 pagi, tempat saya sekolah dulu. Saya boro-boro percaya bahwa dalam hidup ini ada jiwa yang kuat. Jiwa mah sama saja dimana-mana, pakai dikuat-kuatkan segala? Manusia terlalu pandai mencari-cari alasan dalam hidupnya. Padahal sungguh hidup itu sederhana. Anda tidak percaya? Ini saya kasih bukti. Kebanyakan pembunuh, pemerkosa, koruptor dan kriminal lainnya itu punya badan yang sehat. Apa lantas jiwa mereka ikut sehat? Omong kosong!

Saya push-up bukan gara-gara ingin sehat, tapi biar mata tidak mengantuk lagi. Atau malah, agar putri semata wayang bicara serius mengenai kesehariannya (yang tentu saja ia lakukan sambil duduk di atas punggung saya yang sedang push-up). Saya naik sepeda bukan gara-gara ingin sehat, tapi karena itu cara termudah, termurah, dan tercepat untuk berangkat kerja ke pabrik. Saya panjat itu dinding dan tebing bukan gara-gara ingin sehat, melainkan karena sedang dapat diskon untuk melanjutkan sekolah memanjat lagi.

Sesungguhnya kita bergerak karena alasan yang sangat pragmatis.

Percaya atau tidak, teori diatas ini sering dibantai habis-habisan oleh banyak orang, alasannya; karena tidak ada integritas dan idealisme disana.

Tidak punya integritas? Tidak memiliki idealisme? Ajaib, bagaimana seseorang bisa mengalamatkan kalimat itu pada orang lain ketika ia menjalani hidup yang berbeda?

Sahabat saya Aji, sering dipanggil Lola oleh teman-teman yang lain. Itu singkatan. Diambil dari profesinya, salah satu cabang pekerjaan paling tua di muka bumi; prostitusi. Lola, singkatan dari lonte lanang, pelacur pria.

Saya panggil Aji yaa tetap Aji. Tidak pernah mau saya panggil ia sebagai Lola. Dan itu membuat Aji bingung, sehingga suatu hari ia bertanya.

“Lo kenapa sih manggil nama gua pake nama gua?”

“Lah emang gua harus manggil lo apa?”

“Anak-anak manggil gua Lola. Lo kan betemen ama gua bukan setaon dua taon men. Lo kayak ga tau gua aja. Lo nggak suka gua mecun, men?”

“Ji, gua hargain profesi apa aja men. Lo mao mecun, mau apa kek itu urusan lo. Tapi kalo lo masuk abri trus lo jadi mayor, masa lo gua panggil mayor? Tiap lo naek pangkat lo punya nama baru dong? Emang kita tinggal di mess tentara?”

Aji diam. Lama. Saya juga diam. Habis mau apa lagi? Trik ad hominem saya terambil olehnya.

Akhirnya ia buka mulut, “Anak-anak taik juga sih. Gua dipanggil Lola sejak dapet ama si Lia. Lo tau kan Lia, yang waktu itu gua ngeluh nggak bisa bayar kost-kostan trus pas dia pulang pagi ada duit dua ratus ribu dia atas meja gua. Pas gua cerita, anak-anak ketawa trus manggil gua Lola. Anjing banget ga sih! Padahal waktu gua cerita, anak-anak gua traktir pecel lele. Trus duitnya yaa duit si Lia itu. Anak-anak kan tau. Tapi gua dipanggil Lola. Kalo gua dipanggil lonte lanang, trus mereka apaan? Palo? Parasitnya lonte? Taik lah!”

Saya diam. Adiknya Aji itu autis, biaya sekolahnya mahal. Cerita belum usai sebab papanya kabur dengan perempuan lain ketika anak-anaknya balita. Dan masih ditambah plot ala sinetron Indonesia ketika mamanya, bertahan hidup jadi tukang jahit yang buka praktek di beranda depan rumah. Semuanya bergantung ke Aji untuk bisa tetap hidup. Klise? Mungkin iya. Sama seperti drama hidup lainnya, klise.

Semua orang punya dramanya masing-masing. Dan hampir semuanya klise. Tapi apa sih yang baru di bawah matahari? Apa sih yang baru di muka bumi ini ketika hidup di bawah garis kemiskinan?

Ini cerita tentang hidup yang sederhana. Sesederhana survival of the fittest. Tentang Aji. Tentang banting tulang sedekah sperma kepada siapa saja yang mampu membayar.

Aji sering cerita soal hidupnya. Malam-malam. Hanya kepada saya? Ooh iya. Ini jelas cerita eksklusif. Memulai karir dari sauna dan klab fitnes untuk penyuka sesama. Kata dia, “cepet duitnya tapi nggak banyak sih”. Tanpa merinci lebih lanjut apa maksudnya. Membiarkan saya menerawang sedih tidak bisa tidur membayangkan dia mengangkang dan lalu berbaring di kamar kost tidak bisa masuk kelas karena kesakitan.

Aji bilang Lia menginspirasi. Membuatnya belajar di sebuah forum internet dan mulai memasarkan diri. Sayang tidak laku. Gimana mau laku, dia tidak berani pasang foto? Aji masih malu buka-bukaan. Tapi hari berganti hari. Dia punya klien tetap sekarang. Laki-laki, perempuan, dan bahkan katanya kalau rumput yang bergoyang bisa bayar, pun ia sedia mengangkang.

Suatu hari, Aji pulang ketika saya mau masuk kelas pagi. Lemas. Kausnya kotor, banyak bercak darah. Saya buatkan mie instan dan teh manis ketika ia mandi. Keluar dari sana, badan pemanjatnya yang kukuh liat bagai terbuat dari susunan batu bata rumah kokoh terlihat banyak guratan luka memanjang. “Gua dicambukin, men”

“Dicambuk? Ama siapa?”

“Ama nenek-nenek…”

“Ama nenek-nenek? Kok lu bisa disiksa ama nenek-nenek?”. Saya bengong. Mau ketawa. Tapi tidak bisa. Sedih juga ada didalamnya. Ironi.

“Klien gua, men. Gua diborgol, abis itu ditutup matanya. Abis itu gua ditelanjangin trus dicambukin. Gila sakit banget men. Gua ampe nangis-nangis, abis perih banget badan gua. Eh abis itu gua malah dianjing-anjingin ama dia. Abis itu dia nyuruh jilat-jilat kakinya. Abis itu pas dia puas, dia pergi dah…”

Saya kaget luar biasa, “Trus lu bisa lepas gimana ceritanya?”

“Yaa gua teriak-teriak laah. Untung di denger ama satpam rumahnya”

“Wah parah, Ji. Ayo laporin polisi?”

“Nggak men. Abis gua dikasih duit ama satpamnya. Kata satpam, emang majikannya gitu kalo maen. Gua dikasih tiga ratus ribu men. Lumayan lah buat lebaran nanti emak gua ama adek gua bisa belanja”

Cerita Aji menjual jasa prostitusi tidak lama kemudian menyeruak. Jelas gosip. Sebab banyak yang bergunjing Aji tidak punya integritas. Tidak punya moral sebagai cowok. Sebagai laki-laki, harusnya punya idealisme dan harga diri. Lalu mengukuhkan Aji sebagai Lola.

Tidak punya integritas dan idealisme? Apa yang mereka tahu tentang Aji? Sehingga berani mengalamatkan kalimat ajaib nan mewah begitu pada orang sesederhananya.

Hidup itu sederhana, sayang manusia tidak. Hingga berani-beraninya bikin puisi roman latin Juvenal di awal tulisan ini dalam bahasa latin yang isinya agar berdoa terhadap dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jiwa yang tidak takut mati. Diberkahi panjang usia. Agar dapat kuat menanggung semua penderitaan yang ada, tanpa kenal marah dan keinginan untuk memiliki.

Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa kuat? Dan dalam jiwa yang kuat terdapat integritas, moral dan idealisme? Ahh, pendapat kita pasti berbeda. Buat saya itu omong kosong. Orang yang paling banyak bicara jargon dan kalimat-kalimat mewah macam begitu biasanya orang yang paling memuakkan yang pernah saya temui.

Tapi pendapat kita pasti beda. Tidak apa-apa. Kita kan manusia yang berbeda :)

Apapun yang beda, Aji tetap jadi Lola. Tapi tarifnya jelas bukan tiga ratus ribu lagi per cambuk.

(*Aji, salam dari sini. Biar indah tubuhmu. Dijamah orang-orang. Tapi cinta tulusmu. Harus jadi milik mereka yang mencintaimu*)


Cerita Kecil Tentang Hal Sederhana: Maut

Sudah lama saya tidak menulis. Ternyata tidak menulis itu enak juga. Hahaha. Yang tidak enak itu ketika suatu hari diperkenalkan oleh seseorang ke publik, “Kenalin nih bangaip, blogger”. Saya bengong dan memaki dalam hati. Edan, saya sudah lama tidak nulis di blog kok yaa masih saja di-sok-akui sebagai blogger.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya dapat banyak surat dari teman-teman saya. Bertanya kenapa saya tidak menulis dan ada apa dengan saya. Sumpah mati saya jadi jadi terharu. Serius, terharu. Bukan becanda. Biasanya mah saya terharu, tapi becanda. Nah kali ini, saya serius, terharu.

Bagaimana tidak terharu, dari antara teman-teman saya ada beberapa orang yang benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya. Dan mereka bertanya mengapa saya tidak menulis dan apakah saya cukup sehat untuk menulis.

Sumpah mati saya kaget, ternyata ada yang menunggu tulisan saya. Ada rasa belagu (iya lah, saya juga manusia) karena dirindu. Ada rasa bersalah karena menumpuk cerita dalam otak. Ada banyak rasa yang yang sebenarnya bisa dituang dalam tulisan.

Ya sudah, ini saya cerita deh. Kenapa saya beli bumbu pada tulisan terakhir sampai berbulan-bulan.

Jadi begini, suatu hari seorang ibu-ibu berkata, “Wah kalo kayak kamu mah paling lama sekitar pertengahan musim panas ini” ujarnya merujuk pada siklus hidup saya.

Saya jelas bete. Masa sih cuma gara-gara komplikasi radang pada jantung dan bonus benda kecil di otak yang namanya kanker, umur saya tidak akan bertahan lama melampaui Agustus 2012? Dan sumpah pocong, saya jarang percaya omongan orang. Jangankan pada manusia, pohon beringin saja yang lebih sakti dari manusia, saya jelas-jelas tidak percaya. Tapi karena si Ibu-ibu ini punya banyak gelar dari depan hingga ujung belakang namanya, diantaranya ahli medik spesialis. Terpaksa lah saya harus percaya.

Di saat yang sama, saya dapat kabar yang luar biasa sekali. Sahabat baik saya kehilangan rumah dan jadi gelandangan. Menginap dari satu rumah teman ke teman yang lain. Satu teman lagi, lebih parah, kehilangan pekerjaan dan sama sekali tidak mampu menyewa kamar paling murah sekalipun hingga kesulitan makan. Dua manusia itu, sering dan boleh dibilang hampir tiap hari menumpang di rumah saya. Luar biasa? Ahh belum. Itu belum seberapa. Yang bikin luar biasa adalah akibat krisis melanda, gaji saya dipotong dan saya juga terancam kehilangan tempat tinggal. Jadi selain terancam kehilangan nyawa, saya juga terancam kehilangan tempat berteduh ketika sedang menunggu ajal dijemput. Dan kalau kehilangan rumah, saya bisa kehilangan hak asuh anak, satu-satunya cinta yang tersisa di muka bumi ini.

Kehilangan teman, kehilangan rumah, kehilangan cinta dan kehilangan nyawa. Hehe, itu baru luar biasa.

Saya tidak begitu cerdas, tapi yaa jelas tidak bloon-bloon amat. Dalam taksiran hitung sementara, kunci yang bisa diputar untuk membuka masalah kehilangan diatas ini hanya satu, yaitu tempat tinggal. Jika saya masih punya tempat tinggal, maka saya masih bisa membantu teman, berteduh, main sama anak, dan melenggang menuju sakaratul maut dalam ruangan yang hangat.

Ok, kalau begitu rumah harus saya pertahankan. Tapi bagimana caranya? Jaman lagi susah begini, bagaimana mau bayar kontrakan?

Akhirnya saya hutang.

Gila memang. Mau mati kok hutang? Masa mau mewarisi hutang? Manusia macam apa saya ini?

Tapi setelah dihitung-hitung, kelihatannya saya bisa bayar hutang rumah jika saya selama dua bulan bekerja gila-gilaan. Pada waktu ini, saya terus berpikir-pikir, kok yaa saya mau mati harus kerja mati-matian. Apa gunanya hidup saya? Harusnya kan saya senang-senang saja sebelum ajal menjemput. Kok mau mati saja repot amat?

Lantas saya berfikir. Panjaaaang sekali.

Setelah beberapa hari dalam gundah gulana, untunglah saya dapat jawabannya. Ternyata jawabannya sederhana. Yaitu apa arti maut buat saya.

Setelah saya pikir-pikir apa arti maut, ternyata saya benci jadi tua. Sebab menjadi tua itu dekat dengan usia yang hampir habis masa batasnya. Dan itu masa yang saya benci. Masa ketika saya harus meninggalkan dunia fana.

Tapi kenapa saya harus benci? Setiap orang akan jadi tua. Lalu mati setelahnya. Kenapa harus takut mati? Bukankah ia alami? Hidup sekali. Hidup berani. Sebab hanya pengecut yang mati berkali-kali. Setiap orang pasti akan merasakan maut mengecup. Yang jadi pembeda hanya cara menerima bibirnya, dengan malu terhina atau bangga mulia?

Atas dasar itu saya menerima bantuan hutang sahabat yang baik sekali. Lalu bekerja mati-matian berbulan-bulan setelahnya untuk bayar cicilan. Demi sebuah tempat yang bernama ruang berteduh. Dimana saya, anak dan teman-teman bisa berteduh sementara. Sementara? Ya iyalah, memang mau hidup selamanya? Hehe…

Jadi akhirnya saya dan teman-teman yang homeless ini syukurlah bisa punya tempat bernaung. Dan itu jelas syukur, di ambang batas waktu yang makin menipis, masih diberi kesempatan bantu-bantu teman sambil cengar-cengir bersama mereka. Nikmat.

Di saat yang sama, saya tambah bersyukur masih dapat kesempatan bertemu dengan cinta saya. Seorang bocah perempuan berusia tiga tahun. Setiap hari bertemu beliau, selalu saya jadikan ‘hari terakhir’. Yaitu hari yang saya akan kenang sebagai hari terbaik dalam hidup saya. Main dan tertawa bersama putri tercinta. Hari bersama dia, kami lalui dengan luar biasa. Sepenuh hati, saya beri semua perhatian terhadapnya di hari itu. Seakan saya sudah di tunggu maut dari balik tirai jendela. Jadi semua cinta, semua kasih sayang, semua apa yang seharusnya putri saya terima sebagai haknya menjadi seorang anak, ia terima lunas semuanya di hari-hari itu.

Dan ‘hari-hari terakhir’ itu, adalah hari yang benar-benar membahagiakan buat saya.

Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.

Suhu di luar sudah mendekati minus 14 celcius. Buat kulit orang Cilincing macam saya ini, itu artinya hanya satu kata; dingin. Tapi dalam rumah, tempat saya berteduh, selalu hangat. Sebab disana ada hati yang dicintai dan mencintai.

Tapi kadang saya jalani hari-hari ini dengan penuh tanda tanya. Diantaranya adalah, kalau saya memang iya mau mati, kok yaa saya senang-senang saja? Di sisi lain, masih banyak pertanyaan seperti, wah kalau maut menjemput tapi hutang belum lunas gimana yaaa? Nanti anak saya siapa yang jaga kalau saya pergi?

Ternyata saya baru sadar, orang kalau mau mati, kebanyakan tanya-tanya. Hahaha…

Karena tidak dapat jawaban atas semua pertanyaan, maka saya putuskan untuk kembali ke khittah. Yaitu saya harus makan-makanan enak sebelum maut menjemput. Istilah saya, ‘jamuan terakhir’. Dan karena ini jamuan terakhir, yaitu makanan yang akan saya ingat-ingat sebelum maut datang. Maka ia harus sempurna dan luar biasa.

Tentu saja sempurna dan luar biasa itu beda buat setiap definisi manusia. Buat saya, makanan luar biasa sempurna adalah nasi, potongan ketimun, rendang dan kerupuk. Plus sambal dan teh manis hangat, tentu saja.

Jadi suatu malam, setalah seharian penuh main-main dengan putri saya tercinta dan bahagia luar biasa, saya undang teman-teman untuk makan malam. Tentu saja makan rendang. Plus sambal dan kerupuk tepatnya. Saya tidak cerita apa-apa pada mereka. Saya tidak mau cerita apa yang tengah saya alami dan apa perasaan saya saat itu. Sebagaimana saya tidak cerita pada putri semata wayang kalau papanya akan pergi sebentar lagi.

Saya tidak mau cerita susahnya hidup. Saya tidak mau melihat raut muka mereka khawatir. Tidak enak melihat wajah orang lain khawatir karena cerita saya. Yang saya mau lihat, mata mereka bahagia melihat rendang dan ketimun. Sebagaimana mata saya yang berbinar-binar ceria ketika bisa makan seenak jidatnya.

Malam itu, ketika semua orang pulang dan hanya tinggal teman-teman yang sehari-hari ada di rumah, saya masuk tidur ke kamar. Sebelum mata tertutup pulas, saya cengar-cengir senang sekali menatap dinding langit-langit yang ditutup cat putih dan lampu kertas murahan.

Ahh kelihatannya saya bahagia. Tidak perlu uang banyak rupanya untuk bahagia.

Nah, besoknya. Pagi. Sekitar jam sepuluh. Saya dikagetkan suara telpon yang membuyarkan mimpi. Ternyata itu suara Ibu-ibu ahli medis spesialis. Kata beliau, “Mohon maaf ada kesalahan di alat kami. Kamu ternyata tidak apa-apa”

Saya bengong. Ini jangan-jangan saya masih mimpi. Maka itu saya tanya, “Maaf yaa, ini benar telpon untuk saya?”

Suara ibu-ibu itu bilang, “Ya benar. Kamu bisa datang ke rumah sakit untuk mengeceknya”

Setelah terdiam cukup lama, lirih saya tanya, “Jadi… Jadi saya nggak jadi mati, Bu?”

Dia diam lama, tapi lalu menjawab, “Eh, kamu tidak di diagnosa seperti sebelumnya. Soal mati, errr.. Saya tidak bisa jawab. Pada intinya, kamu sehat”

Saya bengong. Lama. Ya iya lah, benar memang maut mah tidak bisa dikira. Tapi lumayan lah kalau setidaknya saya bisa menikmati musim panas ini sampai tuntas.

Kelihatannya, saya masih bisa main-main terus sama putri tercinta.

Oh ya, satu lagi; Kalau saya nggak jadi mati, saya masih bisa makan enak dong. Kan kalau mati, susah makan.

Namanya orang hidup, pasti banyak maunya. Apalagi dikasih kesempatan untuk hidup lagi. Saya pernah bertanya-tanya, kalau saya mati dan lalu dihidupkan lagi, apa yang akan saya lakukan.

Jawabannya ternyata mudah; saya mau jalan-jalan naik sepeda ke kebun binatang bersama putri saya dan makan ikan bakar bersama teman-teman saya sambil main gitar menyanyi ceria.

Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.

Tapi kan itu hidup saya. Hidup Anda? Errr.., :)


Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)

Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya.

Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi pertanyaan ini kepada publik. Siapa tahu ada yang iseng ikutan jawab. Atau, siapa tahu ada yang ikutan stress. Hehe…

Begini; daripada susah-susah. Lebih baik semua pertanyaannya saya klasifikasi menjadi beberapa bagian.

Bagian Pertama: Pertanyaan Dasar Komunikasi. “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?”

Komunikasi apa maksudnya?

Tentu saja komunikasi elektronik. Misalnya: telepon, email, radio dan semua yang ada hubungannya dengan jalur eletronik. Tapi mengapa pemerintah menutup jalur komunikasi elektronik?

Bisa saja suatu hari pemerintah ‘agak iseng’ (dan mereka memang sudah terkenal keisengannya) lalu mengeluarkan sebuah kondisi darurat bahaya untuk semua manusia RI dan sialnya selain mengeluarkan jam malam dan status operasi militer mereka juga mengeluarkan larangan berkomunikasi para WNI kepada dunia luar (local or worldwide). Apa yang harus kita lakukan?

Menurut? Sambil bertanya-tanya dalam hati: kenapa mbok yaa ndak menurut saja pada pemerintah, kalau sudah dilarang berkomunikasi mengapa masih mau melanggar?

Kalau Anda mau begitu, yaa silahkan. Kalau menurut saya, jangan! Jangan menurut kalau hak Anda dicabut.

Jawaban satu pertanyaan di atas sekaligus pertanyaan baru: Perkembangan masa membawa perubahan baru. Yaitu bahwa hak dasar manusia bukan hanya sandang pangan papan saja. Melainkan juga komunikasi. Tahun 1969 Jean D’Arcy dari Perancis membawa konsep ini dan lalu dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir tahun 80-an. Konsepnya sederhana, yaitu bahwa komunikasi berhak dinikmati oleh siapa saja. Maka jika pemerintah, penguasa atau rezim atas nama apapun melarang atau memberangus saluran komunikasi, maka bisa dipastikan bahwa mereka ikut pula menghancurkan hak dasar manusia. Jika sebuah rezim tengah menjalankan politik penghancuran hak dasar warganya, bukankah artinya pemerintahan tersebut sedang lebih dari sekedar ‘agak iseng’?

Jadi jawaban apa yang tepat jika pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?” yaa gampang: Lawan!

Bagian Kedua: Saluran Dasar Komunikasi Elektronik Dan Efeknya Pada Pemerintahan

Saluran dasar komunikasi elektronik dalam kategori transmisi terbagi menjadi beberapa macam. Umumnya yang dikenal publik luas adalah kabel, nirkabel dan internet. Itupun dibagi-bagi lagi menjadi semakin luas seperti; telepon, email, sms, fax, radio, unduh, live streaming, dan lain sebagainya. Kalau mau spesifik, kita akan mengenal proses signal seperti enkripsi (penyandian), digitalisasi, multipleksi dan lain-lain. Dan masih banyak lagi pembagiannya. Tapi ini kan bukan wacana kuliah yang perlu spesifik. Saya hanya akan menelaah sedikit dalam kekuatan komunikasi elektronik dan pengaruhnya pada pemerintahan atau rezim yang tengah berkuasa.

Ini contoh-contohnya:

Telepon: Kekuatan penggalangan massa (people power) dalam menuntut pengunduran Presiden Philipine Joseph Estrada tahun 2001 adalah ketika para pemrotes mengirimkan SMS satu sama lain sebagai berikut:

  1. Pakai hitam-hitam untuk melayat demokrasi yang telah mati
  2. Siap-siap jika ada kerusuhan
  3. Militer perlu melihat 1 juta manusia yang mau menurunkan Erap besok. Ayo bergabung!

Hebatnya, SMS ini sukses besar. Setelah lima hari demonstrasi secara kontinyu oleh warga, Erap (panggilan untuk Joseph Estarada) pun akhirnya turun dari singgasananya.

Ahh dia tidak begitu dicintai warga rupanya.

Sisi lain yang cukup negatif. Selain alat penggalangan massa, telepon (terutama telepon genggam) di beberapa negara juga bisa dipakai sebagai sebagai anjing pengendus penguasa. Seseorang dapat dengan amat mudah diketahui posisinya hingga isi ‘daleman’ telepon mereka oleh pihak penyedia telekomunikasi. Setahu saya, saat ini di RI beberapa provider telepon secara diam-diam bahkan diketahui menyuplai data konsumen mereka untuk pemerintah maupun pihak ketiga (misalnya korporasi besar penawar tertinggi) walaupun baru sekedar nama dan nomor. Alasannya beragam, aneh-aneh dan macam-macam mulai dari war on terror hingga kampanye marketing ringtone. Yang pasti semuanya secara pasti telah melanggar wilayah pribadi si pemegang telepon.

Email: Kekuatan email dibanding pos surat kertas dan amplop umumnya terletak pada sisi kecepatan, reliabilitas dan praktis. Sisi lemahnya, tanpa jaringan elektronik maka kekuatan email memang tidak ada apa-apanya.

Pada Januari 2011, Menteri Komunikasi Mesir Tareq Qamal menutup jaringan internet. Sebagai langkah pencegahan munculnya gerakan penentang pemerintah Presiden Mubarrak. Yang menarik, bahkan ketika para penentang Mubarrak bisa memperoleh jaringan internet melalui dial-up modem (yaitu modem jaman dulu yang masih memakai saluran telepon kabel sebagai penghubung dan kata Sahroni teman saya, “bunyinya kayak burung merpati disembelih”) ternyata mereka tidak bisa mengakses web based email service seperti GMail, YahooMail, Hotmail dan lainnya. Ternyata, pemerintah Mesir memblok semua website-website email dan layanan mereka.

Internet mati yaa email juga ikut mati.

Sebelum internet dibunuh pada musim dingin Kairo, setahun sebelumnya, lebih tepatnya Juni 2010, senator Amerika Serikat Joe Lieberman (yang sialnya juga ketua Homeland Security) mengusulkan undang-undang tombol merah untuk internet. You know, semacam tombol yang kalau Presiden Obama (atau penerusnya) pencet maka internet seluruh US akan modar seketika. Yang berarti, layanan macam Twitter, Facebook, Google, iCloud dan bla-bla-bla lainnya yang berbasis di US dan saat ini kita pikir ada di genggaman (ponsel) kita, juga akan mampus seketika tombol itu dipencet.

Sosial Media: Kalau tidak salah, semua layanan sosial media memang berbasis internet. Logika sederhananya; kalau internet mati, yaa sosial media juga mati. Di Korea Selatan dan RRC sudah ada sosial media yang berbasis web intranet (*ini mah basi, pabrik aye juga punya bang*) dan/atau mobile berbasis AR (augmented reality, canggih banget nih service. Sayang masih rahasia pengembangan). Jadi jika internet almarhum, para aktifis sosial media masih bisa berbagi info melalui jaringan telepon.

Banyak bukti yang sudah jelas menunjukkan bahwa Facebook atau Twitter memang bukan pemicu atau sponsor utama pergerakan di dunia Arab (Arab Spring 2011). Jadi, sebenarnya ada tidaknya sosial media di Libya, rakyat sana memang sudah sebal dengan (alm) bos mereka yang bernama Muammar Muhammad Abu Minyar Gaddafi aka Muammar Qaddafi. Revolusi itu tidak bisa hanya berdiri diatas sosial media di dunia maya, ia juga harus didukung oleh pergerakan sosial (atau biasanya malah, massal) di dunia offline. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa untuk menumbangkan Qaddafi memang butuh amunisi, bukan hanya kelincahan jempol mengetik di atas layar sentuh telepon genggam.

Tapi, juga tidak bisa dimungkiri, bahwa kekuatan sosial media internet mempengaruhi jalannya pergerakan sosial fisik yang tengah terjadi.

Suatu malam setelah lelah bertempur seharian, seorang pemuda pejuang dari al-majlis al-wattanī al-intiqālī (NTC, pemerintah transisi pengguling rezim Qaddafi) ditanya oleh stasiun televisi Al-Jazeera, “Apa yang kamu lakukan pada malam begini?”

Ia menjawab santai, “Update status fesbuk, liat share komik lucu dari twitter dan baca-baca wikipedia”.

Sampai sini, dari jawaban si pemuda itu sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan sejauh mana sosial media berperan dalam penggulingan Qaddafi.

Ngomong itu gampang: Lawan! Tapi bagaimana melawannya?!

Di Indonesia, internet belum jadi hak asasi WNI untuk bebas dinikmati. Percaya atau tidak, dalam sebuah dokumen undang-undang RI yang berisi usulan anti terorisme, pemerintah berhak mengintervensi atau bahkan mencabut internet. Bahkan jika itu bukan soal terorisme, malah hanya ketika ‘merongrong keutuhan NKRI’ (yang-entah-apa-maksudnya-oh-betapa-LEMHANAS-bahasanya-RUU-gombal-itu), pemerintah berhak mencabut atau menguasai internet. Di sisi ini, pemerintah negara kita tercinta jauh-jauh lebih inferior ketimbang Nigeria yang sudah memberikan hak penuh warganya untuk menguasai internet.

Secara simpelnya, jika suatu hari presiden kita saat ini SBY dimaki-maki publik lewat internet karena suaranya sudah tidak aduhai lagi ketika mengamen, dan sialnya, presiden yang terkenal ajaib ini mengamuk lalu mencabut internet… Ya sudah deh. Menurut UU anti terorisme dan keutuhan NKRI itu, kita semua yang tinggal di RI tinggal gigit jari manyun harus mengikhlaskan wafatnya internet.

Jadi, apa yang harus kami lakukan?

(*Sabar… Sabar… panduannya banyak di internet. Bisa diterjemahkan oleh saya secara ugal-ugalan. Tapi karena sore ini saya harus beli bumbu dapur buat masak nanti malam, jadi saya belanja dulu dan tunggu saja tulisan selanjutnya. Hehe*)


Galau Permanen

Saya dapat banyak surat. Isinya hampir sama semua, mempertanyakan mengapa saya sudah sebulan lebih ini tidak membuat tulisan baru. Semuanya bertanya, apa kabar?

Saya baru saja bikin lagu baru. Single. Entah bahasa Indonesianya apa, yang pasti artinya bukan bujang. Melainkan hanya satu lagu saja. Judulnya, “apakabar?”. Belum dirilis, masih dalam proses mixing. Isinya yaa soal apakabar itu lah, mau apa lagi coba? Masak sih lagu apakabar isinya apakabur? Kan agak aneh. Tapi itu lagu memang buat konsumsi pribadi, bukan buat publik. Hehe.

Apakabar saya?

Jawabannya: letih. Di luar kesibukan sebagai manusia biasa lainnya seperti makan, main, sekolah, kerja, ngurus anak, menerima tamu, mencoba jadi teman yang baik dan bla-bla-bla lainnya, saya ternyata letih.

Saya punya banyak kabar. Saking banyaknya sampai bingung mau cerita yang mana.

Karena bingung, lebih baik saya cerita yang lain saja. Bukan soal kabar saya. Tapi kabar teman saya.

Begini ceritanya:

Suatu malam saya ditanya seorang teman, si Yunus. Ia bertanya, “Bang, kalo dokter bilang umur lo tinggal dua tahun lagi, lo jawab apaan?”

Saya membelalakkan mata. “Gila dua taon! Lama tuh! Gua mah bakalan senang-senang aja”

Yunus bengong, “Yang bener dong Bang, gua serius nih?”

“Yaelah masa gua becanda sih? Dua tahun itu cukup tau buat senang-senang?”

Dia terdiam. Lama. Sambil manggut-manggut dan melihat langit. Dan akhirnya setelah diam cukup lama, ia buka suara lagi, “Senang-senang maksud lu gimana bang?”

“Yaa senang-senang lah. Makan nasi padang, maen sepeda ama anak gua, cengar-cengir tiap malem ama temen-temen gua, bikin teka-teki silang buat warisan, ama nerusin hobi gua ngeriset arsitektur penyebaran kota”

“Nasi padang? Kenapa nasi padang?”

“Lah lu ga tau nasi padang itu enak? Wah kasian banget idup lu!”

Dia ketawa terbahak-bahak. “Yaah gua bisa ngerti bang, maen sepeda ama anak itu nyenengin. Tapi buset dah, masa sih ninggalin warisan teka-teki silang?”

“Yaelah, gua pan betawi mungkar. Dimana-mana orang betawi punya tanah, gua mah boro-boro. Udah tanah kaga punya. Rumah juga ngontrak. Duit ada palingan cukup buat idup aja. Mao ninggalin apa gua buat warisan? Yaa teka-teki silang aja dah… Masih untung gua ninggalin TTS. Coba kalo gua ninggalin utang ama polusi. Pan sial banget tuh anak cucu gua nanti”

Dia cengar-cengir. “Tapi bang, ngapain juga ngeriset trus nerusin penelitian. Lu kan udah sebentar lagi mao mampus. Kok masih mikirin penelitian?”

Saya mendelik, “Yee kampret lu ah. Siapa nyang bilang gua mao modar? Lagian riset itu pan hobi. Mao ada beasiswa apa kaga kek, mao dunia tebelah tujuh kek, mao riset gua diketawain orang kek, bodo amat. Itu pan hobi gua. Urusan amat ama nyang laen? Emang gua pikirin…”

Dia masih saja cengar-cengir. “Bang, lu mah aneh yaah?”

Saya garuk-garuk kepala menjawabnya, “Kok gua yang aneh, ada juga lo yang aneh. Kaga ada ujag-ujug trus nanyain gua kalo idup gua tinggal dua taon lagi. Emang lo mao mati dua taon lagi, Nus?”

“Nggak Bang, kemaren lusa katanya dokter si Imron abang saya kena kanker. Umurnya nggak lama lagi. Palingan juga sekitaran dua tahun lagi gitu deh”

“Wah sori yaa, Nus. Tapi serius gua tadi kaga becanda. Besok kita bikinin nasi padang yuuk. Kita kirimin ke Imron”

“Gimana bikinnya bang?”

“Resepnya pan banyak di internet”

“Trus yang bikin siapa?”

Lagi-lagi saya mendelik, “Yaa kita bedua lah. Masa gua sendirian. Kampret luh!”. Dan Yunus tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Besoknya sepulang mengantar nasi padang dari rumah Imron, saya dan Yunus naik sepeda berdua. Selepas taman rumput menjelang rumah, saya bilang sama Yunus, “Nus, tadi gua dapet SMS. Temen gua udah capek ama idup ini. Letih katanya. Mao mati aja”

Yunus menengok dari sepedanya ke arah saya, “Trus lo bilang apa bang?”

“Yaa gua nggak bilang apa-apa”

“Masa sih bang lo nggak bilang jangan?”

“Nggak tuh… Gua kepengen tau dulu aja dia kepengen mati kenapa? Kalo dia masih berguna buat orang laen, yaa jangan. Tapi kalo emang gara-gara dia idup nyusahin semua makhluk di muka bumi, yaa lebih mati aja kali yaah”

“Waah lu sadis banget bang?”

“Yee.. jangan salah men. Lu tau ga, kalo Jos Bus sebelom ngebom negara-negara laen nelpon gua dulu trus dia bilang dia galau permanen trus abis itu bilang mao bunuh diri, yaa gua dukung. Gua pasti bakalan bilang, Jos, yaa udah lu mati aja deh daripada lu idup malah nyusahin banyak orang”

“Waah lu parah banget bang. Trus kalo dia nggak mao mati gimana?”

“Gua bilang, Jos, mendingan lu jadi budak gua aja dah. Bersiin wese, mandiin sepeda gua dan laen-laen. Kan bagus itu, masih bisa produktif. Nah kabar baiknya, kalo jadi budak gua, ntar gua kasih makan nasi padang”

“Tai luh, Bang. Maksud gua temen lu, bukannya Jos Bus”

Saya bengong sementara dan sambil mengayuh sepeda saya jawab,  “Yaa kalo dia nggak mao mati, ngapain juga bunuh diri?”

“Gua bingung bang, Si Imron mati-matian minum obat tiap hari banyak banget. Idupnya juga nggak keren-keren amat sih. Dia kan cuma satpam. Dia utang kiri-kanan biar bisa nebus obat. Emak gua sampe jual mas kawin buat nalangin beli obatnya. Istrinya susah ampe dengkul tiap hari dagang di pasar, biar bisa nyambungin nyawa suaminya. Dunia ini aneh yaa bang, ada yang kepengen mati dan ada juga yang kepengen idup. Kok nggak bisa nerima aja ikhlas sambil terus ngejalanin apa yang emang harus dijalanin?”

Wah kali ini saya shock. Tumben-tumbenan Yunus pikirannya sedalam ini. Dia ini kan tipikal temen saya yang pokoknya apapun yang terjadi, cengar-cengir saja lah. Jangan-jangan gara-gara lewat taman yang banyak pohon besarnya dia kemasukan jin rumput.

“Nus, mana gua tau jawabnya! Gila luh, kok jadi sok bijak kayak gitu?”

Yunus diam tidak menjawab apa-apa. Sementara, rumah kontrakan saya semakin dekat saja.

Dan kali ini. Hari ini. Di hati ini. Ketika banyak yang bertanya saya apakabarnya dan ingin sekali menjawab dengan mengeluh dan bilang betapa letihnya hidup. Saya pikir saya harus menahan diri sambil mengingat omongan Yunus.

Jalani saja apa yang harus dijalani.

Dan jika semua jalan harus ada konsekuensinya, yaa jalani saja. Pakai sepatu saya sendiri, tidak perlu pakai alas kaki orang lain. Ini sepatu memang buruk, rombeng, bau, kadang bikin lecet dan jamuran, tapi toh ini kaki saya sendiri. Dan ia akan menemani saya menjalani apa yang harus dijalani.


Bon Voyage, Hajj

occupy edinburgh

occupy edinburgh october 2011

Anehnya, sore itu tidak cukup panas sebagaimana sore-sore hari di Cilincing. Saya dan adik, Gugun, duduk berdua di serambi rumah Ibu sambil merokok kretek bersama. Gugun menuang anggur putih dingin ke gelasnya, “Lu mao?”

Saya menggeleng, “Kagak ahh. Lu gila kali. Sore-sore gini udah nge-wine”

Dia mendehem, “lo mah enak, di deket rumah lu wine murah. Disini mahal men. Mumpung ada nih. Nggak sering kan lu balik ke Cilincing bawa wine”

Minuman wine yang sedang ditenggak Gugun itu dari anggur berjenis Riesling. Wine putih agak manis produksi Jerman. Aslinya dari daerah yang bernama Rhine. Riesling ini termasuk kategori anggur putih yang cukup punya rasa khas seperti Chardonnay atau Sauvignon Blanc. Varietas Riesling amat ditentukan dari tanah tempat ia ditanam. Jadi, tidak semua Riesling yang tumbuh di tepi sungai Rhine berasa sama (akibat panjang sungainya 1233 Kilometer melewati beberapa jenis lokasi geografis). Tapi entah kenapa, Gugun suka sekali wine tersebut. Setiap saya pulang ke Cilincing pasti saya bawa sebotol untuk oleh-olehnya. Dia kadang agak gila. Wine itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kecil, dibekukan di dalam lemari pendingin, lalu setelah beku, plastik dibuka lalu disedot-sedot bagaikan makan es krim. Sore itu dia masih cukup ‘berbudaya’. Wine itu masih di dalam botol dan diminum selayaknya manusia meminum cairan dari gelas.

Kami berdua sedang sedih. Baru dapat kabar terbaru bahwa ada lagi WNI yang diperlakukan buruk di sebuah negara di timur tengah. Gugun protes, “Lu tau ga men? Banyak orang ngomong TKW kita itu penyumbang devisa. Tapi coba lu pikir, emang orang-orang kita juga bukan penyumbang devisa terbesar buat Saudi? Tiap tahun… Bayangin tiap tahun, ribuan manusia kita diimpor ke sono buat naek haji dan ngabisin rupiah?”

Saya cengar-cengir. “Rupiah? Bukannya pake dollar amerika buat naek haji?”

“Yaa tetep aja kurs awalnya kan rupiah dulu. Abis itu baru diganti ke dollar. Lu gimana sih men? Ironis kan, ngomongnya benci Amrika kapitalis dan zionis. Tapi tetep aja pake dollar dalam transaksi?”

Saya tertawa terbahak-bahak, “Ad hominem lu ahh… Jaka sembung bawa gitar listrik. Nggak nyambung, jreengg….”

Tapi rupanya dia serius. “Coba lu bayangin, tiap tahun pemerintah kita kedodoran buat handle dollar buat jamaah haji WNI. Tiap tahun pemerintah kita mati-matian cari muka ama Saudi. Sampe pake bikin nama pahlawan penyumbang devisa segala buat TKI. Kok yaa warga kita diperlakukan kayak taik kucing di sono. Ngehe banget ga sih?”

Sambil garuk-garuk kepala saya tanya balik, “Lah terus solusi lu apa men?”

Dia menjawab tegas setelah menenggak wine terakhir di gelasnya, “Pindahin kabah ke Cilincing”

Kali ini saya tertawa ngakak habis-habisan.

Ibu keluar. Mendengar kami berdua ribut sekali. Kelihatannya beliau baru selesai solat ashar. Masih pakai mukena, terus mengomel ke Gugun. “Kamu ini ngapain sih sore-sore minum anggur?”

Gugun menjawab polos, “Yang ngasih pan dia, Bu. Omelin aja dia tuh”

Saya bersungut, “Kampret luh. Gua lagi.. Gua lagi”

Gugun sukses. Mata Ibu beralih perhatian ke saya. “Kamu ini gimana sih? Udah bangon siang. Solat kagak. Ngaji kagak. Mandi kagak. Makan sembarangan. Gimana kamu mao ngedoain bapak?”

Seperti biasa, saya punya sejuta lebih trik menghindar. “Bu kagak ada hubungannya semua itu. Doain bapak pan aya bisa dimana aja. Sambil naek angkot juga bisa ngedoain bapak. Nyang namanye owloh, Bu, pan kagak budeg. Owloh itu, Bu. Maha mendengar! Nih biar kata si Gugun minum wine, tapi kalo hatinya deket ama owloh mah, owloh juga bakal dengerin dia. Jangankan si Gugun, Bu. Ibu pan tau Jalaludin Rumi. Sufi tuh orang, Bu. Die aje bilang, ‘jika ku mati nanti, pabila datang ke makamku bergembiralah bahkan dengan anggur yang terbaik‘. Nah kalo orang suci itu aja ngomong begitu, apalagi aye, Bu”

Alis mata Ibu mengerenyit, “Cerewet kamu! Udah sono makan, mandi, ganti baju trus solat asar! Buset dah, susah amat dengerin kata orang tua? Doain Ibu biar taon depan bisa naek haji”

Saya dan Gugun bengong sesaat. Lalu saya buka suara, “Ibu serius mao naek haji?”

“Ya iyalah. naek haji. Ke Mekah. Ke sono. Naek kapal terbang”

Gugun menyahut malas, “Yaa naek kapal lah, Bu. Masak sih mao berenang? Ampe Arab bisa gempor kali”

Ibu cuek mendengarnya

Saya masih penasaran, “Bu, naek haji pan mahal. Duit dari mana?”

“Ada tabungan dari sekolahan. Gaji Ibu dipotong tiap bulan buat naek haji”

Saya cengar-cengir, “Bu, kalo tetangga kita masih lapar, emang hajinya mabrur?”

Ibu saya santai saja menjawab, “Lah kalo presiden kita tau warganya masih banyak yang laper, seumur idup kagak bakalan kali dia nginjekin kaki di Mekah. Kalo dia aja cuek naek haji, nyuekin warganya yang udah jelas-jelas kelaperan. Masak sih Ibu kagak?”

Saya ketawa terkekeh-kekeh. Ibu ini orang Cilincing. Dan sebagaimana orang Cilincing lainnya, yaa pragmatis. Haha…

Gugun matanya menatap kebun. Ia tidak puas dengan jawaban Ibu. Buatnya, haji itu bukan sesuatu yang luar biasa jika pemeluk agama teguh menjalankan salah satu rukun imannya, menyepelekan kehidupan sosial yang ada di depan mata.

Oke, itu cerita sebuah sore di Cilincing. Singkat saja, saya mau ceritakan bahwa pada akhirnya Ibu gagal naik haji di tahun berikutnya. Gugun, masih tetap tidak mampu beli wine dan menolak alkohol (akibat mahal). Saya? Ahh, saya jelas masih sama. Masih tak beraturan makan dan mandi, masih tidak pernah solat ashar dan masih keras kepala mendengar nasihat orang tua. Hahaha…

Setelah sekian lama, cerita ini akhirnya pun terlupakan.

Namun muncul lagi beberapa bulan lalu. Ketika seorang sahabat bernama Yayak datang ke kampung tempat saya tinggal. Di sebuah sore di dapur Mbok Dini (yang kebetulan rumahnya hanya sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah kontrakan saya), Yayak bertanya kabar Ibu di Cilincing.

Saya jawab, “Ibuku mau naik haji tahun ini, Yak. setelah sekian lama, kayaknya tabungannya cukup. Ibu pergi tahun ini, Yak”

Sambil melinting rokok ia bertanya, “Lu nggak ikut?”

“Waduh, gua sibuk banget Yak., Ibu gua minta gua pulang ke Cilincing. Gua nggak bisa berangkat. Susah nggak bisa ninggalin anak dan kerjaan yang numpuk”

Yayak membelalakkan matanya dan tiba-tiba punya ide ajaib, “Lu nggak usah pulang. Ngapain lo pulang ke Cilincing? Lu langsung aja ke Mekkah. Lu gendong tuh emak lo sampe rumah Tuhan. Gua tau lo udah nggak percaya siapa-siapa. Itu mah ga penting. Yang penting, lo bikin emak lo seneng. Lo pijitin kaki dia kalo pulang acara haji tiap sore. Lo gendong emak lo kalo capek. Nih denger gua, Rip. Lo percaya apa nggak, itu nggak penting! Yang penting, lo bahagian itu Ibumu…”

Saya bengong. Edan, kok yaa tiba-tiba saya percaya kalau omongan Yayak benar adanya. Tiba-tiba, semuanya jadi logis di mata saya. Tentang agama dan ritual yang pudar di mata bahkan sejak saya lepas bangku SMA, kini tiba-tiba jadi logis dan benar-benar terang.

Mungkin saya memang sudah kehilangan agama. Sudah kehilangan kepercayaan. Sudah kehilangan ‘pegangan’ bahwa hidup ini melulu untuk surgawi. Tapi, saya masih punya Ibu. Dan saya amat mencintai beliau sepenuh hati. Dan mengakui, bahkan jika ada lautan api yang secara literal akan saya terjuni demi cinta, maka hanya akan saya lakukan atas nama putri dan Ibu saya.

Hanya demi cinta dua wanita itu, bahkan langit pun akan saya tantang untuk membuktikannya.

Yayak benar. Saya mungkin sudah tidak punya agama lagi. Tapi saya masih punya Ibu, dan demi beliau, saya akan melakukan apa yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas di otak saya.

Iya, saya akan berangkat haji.

Gila, tidak pernah terlintas di otak, saya kan melakukan tindakan segila dan senekat ini. Tapi saya akan naik haji. Hanya untuk menjaga, menggendong dan memijit kaki Ibu ketika beliau letih. Sumpah, sama sekali saya tidak peduli bahwa saya akan berembel-embel haji, atau malah jadi masalah buat Saudi. Itu sama sekali tidak penting. Saya hanya akan menjaga dan bersama Ibunda tercinta.

That’s all.

Lalu saya pun mulai riset. Belajar bahasa Arab. Cari teman yang sudah naik haji dan bertanya pengalaman mereka dan cari yang informasi. Dan setelah berkali-kali menghubungi biro perjalanan, hasilnya semua sama. Naik haji itu ternyata tidak murah. Setidaknya, bukan untuk kantong buruh kecil macam saya ini. Saya coba alternatif lain. Saya coba untuk naik haji a’la backpacker. Cari yang murah meriah.

Namun tetap sama. Saya, secara finansial, benar-benar tidak mampu naik haji.

Iya, di satu titik saya akhirnya sadar dan bicara melalui saluran langsung internasional dengan Ibu, “Maaf Bu, saya tidak bisa pulang ke Cilincing anter Ibu ke bandara dan juga tidak bisa jaga Ibu di Mekkah”.

Ibu mengerti. Anaknya yang nun jauh di belahan dunia sana punya dunia sendiri. Beliau hanya bicara singkat dalam lirih, “Doain aja Ibu selamet yaa…”

Saya mengangguk dalam percakapan itu. Hati saya masygul. Bahkan setelah menutup telpon, saya masih diam seribu basa.

Putri saya, Novi Kirana datang menghampiri setelah telepon usai. Bocah berusia tiga tahun itu bertanya, “Papa, kamu okay?”

Saya senyum menatapnya, “Nak, papa nggak bisa ketemu Oma Ibu. Oma Ibu mau pergi jauh. Naik pesawat. Menyebrang laut. Papa nggak bisa jaga Oma Ibu”

Dia mengusap rambut saya. Ia bilang, “Tapi kamu selalu bisa jaga aku, Papa. Kamu jangan khawatir, Oma Ibu pasti ada yang jaga…”

Saya bengong menatapnya. Iya, saya kaget. jelas amat kaget. Saya tidak bisa membandingkan Ibu saya dengan saya. Saya sudah tidak punya tuhan. Tapi Ibu saya masih. Dan saya yakin cinta dan kepercayaan akan Tuhannya lah yang akan menjaga beliau.

Entah kenapa, tiba-tiba semua jelas dan terang. Semua yang dulu abu-abu dan seakan gelap, tiba-tiba jadi jelas.

Malam ini, saya menulis dalam dingin di sebuah titik di Edinburgh. Pada sebuah monument di Saint Andrew Square. Di tengah tenda-tenda para penghuni #occupyEdinburgh. Tadi pagi dapat kabar buruk, seorang wanita aktifis diperkosa ketika mengikuti acara pendudukan di Glasgow. Dan berita itu menyengat hati saya dan membuat saya kecewa. Bahwa aksi damai di Skotlandia masih dicorengi oleh hal-hal yang membuat miris.

Ibu berangkat ke Mekkah sana. Ke negeri yang lebih panas daripada Cilincing. Saya ada semakin jauh ke utara bumi. Semakin tenggelam ke belahan negara-negara dingin. Kami berbeda. Dan akan selalu berbeda. Sebagaimana saya dan kita selalu berbeda dengan siapa saja. Namun entah kenapa, naifnya saya percaya, bahwa cinta dan kepercayaan akan melindungi mereka.

Saya sudah kehilangan banyak kepercayaan di muka bumi ini. Dan semakin jauh saya berjalan, semakin banyak kepercayaan yang semakin hilang. Namun semakin jauh saya berjalan, ternyata saya menemukan hal yang semakin lama semakin terang, bahwa cinta dan kepercayaan akan tetap melindungi manusia dan isi bumi.

Ahh malam ini mungkin makin semakin dingin. Mungkin malah membuat otak saya semakin beku dan menulis hal-hal aneh macam begini.

Tapi persetanlah semua itu. Yang saya tahu hanya satu, yaitu betapa saya amat mencintai orang-orang yang saya cintai.

Dan harapan akan cinta mereka, yang membuat saya masih hidup hingga saat ini.

Dan dalam kepercayaan itu, walaupun dalam letih, membuat langkah semakin jauh menapak…

(*Ibu, sampai jumpa kembali. Suatu saat, kita pasti akan bertemu*)


Ditelan Kelam Malam

Robinson Crusoe book cover imageKalau tidak ada orang di rumah, biasanya saya suka kesepian. Dalam hati berpikir, “Kemana yaa orang-orang? Kok sepi amat?”. Tapi giliran banyak orang di rumah, saya juga sering bertanya-tanya, “Kok banyak amat orang-orang? Ini kapan bubarnya?”

Bingung? Iya lah, saya saja yang menjalaninya kadang suka bingung sendiri.

Malam ini saya sendiri. Hebatnya, kalau saya sedang sendiri begini, tiba-tiba kok yaa keinginan untuk menulis dahsyat sekali. Mungkin dengan menulis, bisa membunuh sepi. Tapi kenapa pula saya hendak membunuh sepi? Bukankah bulan sepenggal di langit cerah sana kelihatannya menemani malam ini? Kenapa pula sepi harus dibunuh, apakah ia sebegitu menakutkannya? Entahlah. Yang penting biarkan saja saya tetap menulis.

Dalam karyanya yang terinspirasi dari perjalanan Ibnu Tufail, Daniel Dafoe menulis The Life and Strange Surprizing Adventures of Robinson Crusoe, sebuah fiksi autobiografi perjalanan seorang pria yang bernama Robinson Crusoe terperangkap di pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Dalam novel fiksi itu, Crusoe menulis catatan hariannya. Selain mendokumentasikan hidup, juga untuk menjaga ‘kewarasannya’.

Saya bukan Robinson Crusoe. Tidak pula terdampar dalam pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Saya hanya kesepian malam ini. Dan menemani diri sendiri dengan kalimat demi kalimat mantra jampi.

Sudah sebulan lebih saya kedatangan tamu. Tidak tanggung-tanggung, di luar tamu tetap yaitu gerombolan teman-teman dan anjingnya, saya kedatangan tamu baru hampir sekitar 30 orang lebih. Setiap hari selalu muncul orang baru, muka baru dan cerita baru. Tapi saya senang. Walaupun juga ternyata saya letih. Selama sebulan ini kedatangan banyak tamu, senang, letih dan rasa lain sebagainya jadi satu campur aduk tak terkira. Lalu saya jadi enggan menulis. Sebab di ujung hari sudah terlalu berat mengangkat tangan untuk menulis.

Malam ini, tidak ada orang. Saya pikir, walaupun masih letih selama sebulan memforsir diri dengan tamu dan kegiatan pekerjaan yang penuh deadline, ini saat yang tepat untuk menulis. Saya memang bukan Tuan Crusoe, tapi saya harus menjaga kewarasan jiwa.

Yaa sudah. Maka itu, ijinkanlah saya bercerita malam ini. Mungkin sebuah cerita drama sederhana buat banyak orang. Tapi tidak buat saya. Dan daripada saya jadi gila, lebih baik dituliskan sajalah di dunia maya.

Cerita ini dimulai ketika saya kedatangan tamu. Tamu yang datang ke rumah saya silih berganti. Kadang menginap selama dua hari atau lebih. Semuanya menarik. Semuanya ajaib. Semuanya punya khas masing-masing. Namun diantara mereka semua itu, ada sepasang anak muda berusia 22 tahun yang berasal dari Swedia. Yang laki-laki bernama Eric dan yang wanita, pacarnya, bernama Rara. Diantara semua tamu saya, mereka inilah yang paling luar biasa.

Saya kenal Rara lebih dahulu, dari sebuah website dimana para pejalan di muka bumi berbagi keramah-tamahan ketika saling berkunjung. Suatu hari ia mengirim email bertanya apakah ia dan pacarnya boleh bertamu ke rumah saya. Yang serta merta saya jawab saja tanpa banyak cing-cong dengan ‘Iya’. Sebelum ke rumah saya, belum pernah sekalipun saya mampir ke rumah Rara, apalagi ke rumah Eric. Tapi tidak apalah, toh bukankah dalam menjalin pertemanan harus ada yang memulai duluan?

Suatu malam, ketika Eric sudah tidur. Teman-teman saya sudah tidur. Bahkan seekor anjing yang kebetulan bertamu di balkon saya pun sudah tidur. Saya duduk di dapur. Sambil senyum-senyum menatap foto putri saya, Novi Kirana. Malam itu, sebagaimana malam lainnya, saya rindu sekali kepada bocah perempuan berusia tiga tahun itu. Rara datang, mengambil kursi duduk di depan saya sambil berkata, “Cantik sekali putri kamu”

Saya jawab dengan senyum mengangguk, “Terimakasih”

Ia batuk-batuk sebentar. Katanya, sudah seminggu ini radang tenggorokan. Kurang nyaman. Saya berdiri sebentar, mengambil jeruk sitrun di kulkas, menyeduhnya dengan air panas dan lalu mencampur dengan madu dalam sebuah gelas berukuran sedang. “Silahkan diminum Rara. Kami orang Cilincing percaya bahwa sitrun mampu meredakan sedikit batuk. Semoga kamu bisa tidur nyaman malam ini”

Dia menatap saya heran, “Kamu baik sekali?”

Saya terkejut sambil tertawa, “Baik? Aneh, saya tidak punya maksud apa-apa selain berpikir jika suatu hari anak saya seusia kamu dan ia bepergian ke negeri jauh dan lalu batuk-batuk, ada orang yang memberinya sitrun hangat”

Ia menatap saya lekat, “Kamu bapak yang baik…”

Kali ini saya merasa agak kurang nyaman. Entah kenapa saya tidak begitu suka dinilai oleh orang lain cara ketika saya melakukan interaksi antara bapak dengan anak. Baik atau buruk, yang saya tahu saya memberikan semua kasih sayang saya sebagai bapak kepada putri semata wayang. Sebut saya egois. Sebut saya narsistis. Atau bahkan gila sekalipun. Tapi saya tidak peduli sebab saya merasa tidak ada orang lain yang perlu memberitahu betapa cintanya saya kepada putri saya.

Jadi saya jawab dengan agak enggan, “Baik? Perspektif siapa? Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah”

“Buat saya kamu baik. Kamu beda dengan ayah saya”

Alis saya mengerenyit, “Bukankah semua ayah itu baik?”

Ia tersenyum getir ketika menjawab, “Ayah menyuruh saya les piano sejak saya berusia enam tahun. Ia selalu berharap anaknya adalah seorang jenius musik. Tapi saya bukan. Saya fals. Ketika saya umur delapan tahun lalu menekan tuts yang salah, dan ia benci mendengarnya, ia mengajak saya keluar rumah. Di halaman depan, ia mengambil Vidi, kelinci saya. Menyembelihnya di hadapan mata saya. Esok hari ketika saya menekan tuts yang salah lagi, ia mengambil Momo, kelinci peliharaan saya satu-satunya yang tersisa. Tangan kiri memegang kedua kuping Momo dan tangan kanan menyembelihnya. Di depan mata saya. Pesannya sederhana, jangan main tuts salah lagi”

Saya berhenti mengunyah permen karet. Menatapnya kaget dan tidak bisa bicara apa-apa. Ketika akhirnya kami diam selama beberapa menit, saya beranikan diri buka suara, “Tidak pernah terpikir di otak saya ada manusia… Apalagi seorang ayah, melakukan begitu kepada anaknya…”

Rara menunduk, membetulkan syal di lehernya. Kedua tangannya memegang bibir meja makan. “Bukan cuma itu. Waktu umur saya tiga belas tahun, ia pulang mabuk di akhir minggu. Sebagaimana hari-hari lainnya, ia suka pukul mama dan adik-adik saya. Malam itu ia mabuk sekali. Lalu datang ke kamar saya. Ia melakukan hal buruk sekali kepada saya”

Seluruh bulu kuduk di tangan saya merinding. Sedih, kecewa sekaligus marah jadi satu.

Rara sudah tersengguk-sengguk ketika meneruskan ceritanya. Setelah ia menyeruput sitrun hangat dari gelasnya. Emosinya mereda. Ia menjadi tenang kembali.

Tapi saya tidak. Entah kenapa, saya gelisah sekali. Sulit buat otak saya membayangkan seorang laki-laki yang menjadi pemabuk di akhir pekan lalu memukuli keluarganya hingga bahkan memerkosa anak perempuannya selama setahun lebih dan ketika anaknya depresi malah mengirim si anak ke rumah sakit jiwa. Dan semua itu, dilakukan oleh laki-laki yang berpendidikan cukup tinggi hingga mampu menjadi seorang dokter bedah. Astaga!

“Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri. Apa saya yang berpakaian buruk dan membuat ayah terangsang? Atau saya berperilaku tidak baik yang membuat ayah jadi memerkosa saya? Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri sejak pertama kali ayah memerkosa saya”

Saya raih tangannya. Menggenggam erat sambil berkata, “Rara, kamu tidak salah. Yang salah bajingan itu. Tidak semestinya ia masih hidup. Rara, kamu jangan khawatir. Dia tidak akan bisa mengganggu kamu lagi”

Matanya berlinang air dengan deras, “Dua minggu lalu, saya baru saja lulus ujian. Setelah susah payah akhirnya saya bisa menyelesaikan sekolah, saya lulus juga. Ia datang, menyelamati. Saya kira saya sudah bisa berdamai dengannya ketika akhirnya mama menceraikannya. Tapi di malam kelulusan itu, ketika ada pesta, ia coba untuk memperkosa saya lagi. Kali ini, saya sudah kuat. Saya dorong dia dan saya lari. Sejak dua minggu lalu, saya pergi dari rumah. Saya tinggalkan semuanya. Saya tinggalkan rumah. Saya tinggalkan pekerjaan. Saya tinggal semuanya! Saya benci Swedia!”

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa memeluknya. Membiarkannya ia menangis di bahu saya. Membiarkan kaus saya basah terkena airmatanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa memberikannya perhatian melalui sepasang telinga untuk mendengar cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Ketika akhirnya ia bisa tenang, saya tanya, “Eric tahu?”

“Saya baru pacaran dengan Eric sejak enam bulan lalu. Kamu orang pertama selain mama dan Nina kakak saya, yang tahu kejadian ini”

Saya genggam kedua tangannya, “Rara, terimakasih. Saya tahu ini cerita yang sungguh luar biasa buat saya dan sangat sedih untuk kamu. Tapi saya merasa tersanjung kamu percaya pada saya”

Ia senyum, walaupun sambil tetap menyeka air mata, “Iya, saya belum pernah cerita ini kepada orang lain. Hubungan saya buruk dengan laki-laki yang mau memacari saya. Entah kenapa saya bisa cerita pada kamu?”

Saya senyum menjawabnya, “Walaupun rambut saya jelek, tapi gini-gini saya seorang lelaki yang memiliki putri. Dan saya bukan ancaman buat kamu. Sebab kamu tahu saya cinta sekali dengan putri saya”

“Saya selalu kecewa, mengapa hidup ini tidak adil? Kenapa saya tidak bisa dapat ayah yang normal sebagaimana ayah teman-teman saya lainnya?”

Lagi-lagi saya tidak bisa jawab. Apa yang bisa saya jawab? Kalau bapaknya sakit dan berbahaya? Itu sih sudah jelas. Yang lebih tidak bisa saya jawab adalah, bagaimana masyarakat bisa membiarkan kejahatan terhadap anak-anak dan perempuan hanya karena dominasi kultur pria?

Ketika pria tergoda, apa mereka bisa berbuat apa saja? Merenggut kehormatan bahkan hingga secara brutal paksa, apa apologinya?

Rara pergi dua hari kemudian setelah malam itu. Bersama Eric. Kata mereka, tujuannya adalah selatan. Saya tidak bisa memberi apa-apa kepada pasangan muda yang sudah beranggapan bahwa dunia sudah sedemikian tidak adilnya selain selimut dan kasur angin. Hari sudah sedemikian dingin, musim gugur hampir tiba. Mereka tidak punya banyak uang. Mungkin hanya bisa menumpang pada supir truk mengharap belas kasih tranportasi atau malah menginap di taman kota.

Saya kira, drama asal Swedia usai sudah.

Tapi ahh… Tentu saja selalu ada tapi. Dan sebagaimana cerita-cerita hidup lainnya, saya jelas salah.

Hari selanjutnya, Mamanya, Dora dan Nina, datang ke rumah saya. Setelah menjebol akun email Rara (dibantu oleh kepolisian lokal), mereka menemukan bukti bahwa Rara dan Eric menginap di rumah saya. (*Entah kenapa, tiba-tiba nama saya jadi sedemikian terkenalnya di sebuah kota kecil di sudut Swedia sana*)

Jelas saya kaget ketika suatu hari satu orang ibu-ibu dan dua orang anak perempuannya berkendara selama 17 jam non-stop memencet bel rumah. Wajah mereka letih dan pucat ketika saya buka pintu pertama kali melihatnya. Mereka khawatir nasib Rara.

Saya ajak mereka makan malam. Sebab saat itu sudah jamnya. Mereka pasti lapar. Lalu setelah itu ke bar yang pernah dikunjungi Rara dan Eric, mencari kedua sejoli itu. Mamanya Rara terlihat paling stress. Ia sedih sekali. Ini pertama kali ia kehilangan kontak dengan anaknya. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain bilang bahwa saya juga orang-tua dan amat mengerti perasaannya.

Malam itu di bar, saya traktir mereka bir. Ada gitar. Saya ambil dan mainkan lagu-lagu raggae dan dangdut ala Cilincing untuk menghibur mereka. Walaupun jelas bukan hanya mereka yang terhibur, tapi ternyata juga tamu-tamu lainnya. Sepasang gadis Spanyol yang duduk di sudut tergoda dan akhirnya ikut bermain gitar menyanyikan balada gembira Flamenco.

Malam itu, sebelum pergi, Mamanya Rara memeluk saya. Beliau bilang, “Kami tidak mampu menemukan Rara, tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa senyum lagi setelah dua minggu letih tak terkira”

Saya pulang ke rumah dini hari. Jalan kaki. Setelah sampai rumah, rencananya mau mandi. Lalu tidur karena besoknya harus presentasi.

Di tengah jalan dapat SMS dari teman. Katanya ia dalam kesusahan dan butuh bantuan. Sudah cari kiri kanan namun belum juga ada yang membantunya.

Saya bingung mau jawab apa. Makin lama, seret langkah makin jauh ditelan kelam malam.


Boombox Tanpa Bass

boombox imagePernah ikut solat idul korban? Saya mah pernah. Dulu, sering banget malah.

Bagi yang tidak tahu apa itu solat idul korban, ada baiknya saya terangkan sedikit. Solat idul korban adalah penamaan terhadap ritual reliji yang dilakukan secara bersama-sama orang kampung saya pada hari tertentu dimana kami setelah itu makan sate kambing dan sambal kacang sampai puas.

Sebagai anak-anak saya tidak perlu tahu apakah kambingnya masuk surga karena mengenyangkan perut kami atau siapa yang beli kambing dan darimana duitnya. Sebagai anak-anak saya tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu. Yang penting setelah itu selain makan gulai kambing dan lontong kecap, musolah kampung kami punya bedug baru. Itu artinya saya dan teman-teman bisa memuaskan bakat gila terpendam memukul drum laksana Phil Collins yang terlihat di kaset milik paman. Pada intinya hanya satu, solat idul korban itu menyenangkan. Setidaknya buat saya dan tetangga-tetangga di Cilincing yang merasa beli dan makan daging adalah sebuah kemewahan.

Walaupun menyenangkan, solat idul korban itu ada anehnya juga. Bayangkan, sejak saya kecil sampai ABG, itu ritual kok yaa tidak berbeda sedikitpun juga. Sambil duduk nongkrong di lapangan SMP dekat rumah, semua orang diminta mendengar ceramah tentang seorang bapak yang akan menyembelih anaknya tapi karena suatu dan lain hal, maka anaknya diganti jadi kambing (*eh apa onta yaah? Lupa gitu saya*). Pokoknya kira-kira intinya begitu deh. Jika mau tahu lebih detil, jangan tanya saya, datang saja ke lapangan dekat rumah Ibu saya di Cilincing sebuah desa pesisir pantai Jakarta sana pada pagi hari Idul Korban (yang selalu terik).

Tapi sumpah mati, sampai detik ini saya kok yaa tidak pernah berpikir jika si anak diganti kambing, maka si kambing seharusnya diganti apa? Ahh tapi lupakanlah pertanyaan bodoh itu. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang kampung saya sih, “Kok kambing? Pan mahal. Kenape kagak ikan aje. Pan gampang tinggal mancing”
(*Setelah cukup besar, saya akhirnya baru tahu kalau di Jazirah Arab sana ternyata jarang ada pancingan*)

Eh melantur. Balik lagi deh ke solat idul korban. Kenapa yaa tiap tahun si Ustad ceramahnya sama? Si Gugun adik saya, sampai hapal tuh luar kepala apa yang si Ustad omongin tiap tahun. Kata Gugun, “Pak Ustad punya memori hebat. Udah kayak kaset. Kalo jumat dia puter kaset buat hari jumat. Nah kalo hari ini, dia puter soal kambing lah. Lu tau ga boombox? Nah Pak Ustad tuh udah kayak gitu. Bedanya, doi nggak ngebass aje”

Dan omongan si Gugun lah yang menempel erat di otak saya ketika tadi pagi teman saya Tanti bertanya, “Eh ip, sekarang tujuhbelasan men. Kita kerek bendera yuuk…” dan lalu terjawab dengan, “Gua adanya sarung, Tan. Kita hormatin aja sarung gua aja yuuk…”, yang membuat kami berdua terbahak-bahak.

Di timeline social media hingga ranah blog, semuanya ramai membahas kemerdekaan. Mulai dari selebriti sampai tetangga saya di Cilincing, semuanya ramai-ramai merdeka. Hehe, saya sih bahagia-bahagia saja. Apa salahnya mengaku merdeka?

Walaupun tahun ini untunglah saya tidak sirik sebagaimana biasanya tidak bisa ikutan makan krupuk dan lomba-lomba ajaib lainnya, sebab tidak seperti tahun sebelumnya para pesertanya kali ini kebanyakan lemes akibat puasa.

Omongan Gugun menempel erat. Hari ini di hari kemerdekaan RI. Setiap tanggal 17 bulan Agustus, semua orang bicara kemerdekaan. Bicara lepas dari penjajahan (atau malah belum). Bicara peristiwa berdarah ini dan berdarah itu. Bicara bambu runcing ini bambu runcing itu. Bicara kemerdekaan koruptor yang bebas melenggang. Bicara Upah Minimum Regional yang masih tidak manusiawi apalagi merdeka. Semua orang, tiba-tiba merasa menjadi nasionalis sejati (*entah apa maksudnya yang pasti hati-hati lah pakai jargon. NAZI yang ngeselin itu arti singkatan dari sosialis nasionalis loh*). Semua orang merasa memiliki bumi pertiwi ini. Semua orang tiba-tiba merasa paling Indonesia ketimbang lainnya.

Semua orang, mau-tidak-mau-termasuk-saya-dong, udah mirip Pak Ustad pas solat Idul Korban. Puter kaset yang sama setiap tahun. Mirip boombox tanpa bass. Nyaring… Tapi ahh entah kenapa, akibat terlalu monoton terlihat lepas dari makna dan terdengar, garing.

Saya mau cerita tentang operasi penyelamatan nelayan Indonesia di luar RI. Entah kenapa, malas menuliskannya. Bukan karena malas berbagi cerita, bukan juga gara-gara kejadian heroik ini tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus, bukan pula akibat operasi penyelamatan dramatis itu justru dilakukan oleh orang-orang yang terusir dari RI. Bukan. Sama sekali bukan.

Saya hanya khawatir saya akan berubah jadi Pak Ustadz kampung kami. Masih untung kalau memang jago nge-DJ seperti menghapal dan mixing banyak ayat, surat dan lalu menggunakannya dalam membantu umat. Bagaimana kalau cuma sekedar jadi radio rusak, ulang lagu lama setiap saat? Jadi boombox yang nyaring tapi garing?

Sumpah deh saya tidak mau jadi boombox yang nyaring tapi garing. Kalau memang saya harus hidup sebagai boombox, maka saya mau jadi boombox yang mengiringi para bboy/bgirl menari dalam gerak dinamis breakdance. Kalau memang saya boombox, saya mau jadi boombox yang memproduksi semua suara menjembatani para rapper menuju nirwana mereka.

Anehnya semakin bertambah tahun saya malah semakin terlihat seperti radio rusak. Makin nyinyir. Makin apatis. Makin tidak spontan. Makin-makin lainnya lah yang tidak begitu enak.

Ahh, kelihatannya saya harus memerdekakan diri sendiri dulu nih?

(*By the way, soal penggantian kurban dari kambing ke ikan, sempat menimbulkan polemik di kampung kami. Akhirnya setelah para tetua kampung bermusyawarah dan bermufakat secara marathon berbulan-bulan lamanya, kami memutuskan untuk akan memakai kambing saja ketimbang ikan. Alasannya; kulit ikan susah dijadikan bedug*)